Monday, 24 Rabiul Akhir 1443 / 29 November 2021

Monday, 24 Rabiul Akhir 1443 / 29 November 2021

Kisah Penyelundup dan Pencuri Kopi Paling Berjasa di Dunia

Jumat 01 Oct 2021 06:02 WIB

Red: Bayu Hermawan

Petani menunjukan biji kopi jenis ekselsa yang telah disortir di Tamansari, Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (29/9/2021). Salah satu petani kopi di daerah tersebut mengatakan, saat ini petani menerapkan petik merah karena mampu meningkatkan harga jual hingga Rp45 ribu per kilogram jika dibandingkan dengan panen secara racutan harganya berkisar Rp25-27 ribu per kilogramnya.

Petani menunjukan biji kopi jenis ekselsa yang telah disortir di Tamansari, Banyuwangi, Jawa Timur, Rabu (29/9/2021). Salah satu petani kopi di daerah tersebut mengatakan, saat ini petani menerapkan petik merah karena mampu meningkatkan harga jual hingga Rp45 ribu per kilogram jika dibandingkan dengan panen secara racutan harganya berkisar Rp25-27 ribu per kilogramnya.

Foto: ANTARA/Budi Candra Setya
Perkembanga kopi di dunia dihiasi berbagai kisah, salah satunya cerita Baba Budan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- 1 Oktober diperigati sebagai Hari Kopi Internasional oleh masyarakat dunia. Perjalanan kopi menjadi salah satu minuman favorit, tidak melulu diisi oleh cerita tentang perdagangan maupun pembudidayaan. Namun, ada pula kisah-kisah penyelundupan hingga pencurian terhadap bibit kopi. 

Seperti diketahui, kopi telah menyebar di jazirah Arab sejak abad ke-15. Masyarakat di jazirah Arab kemudian mulai membudidayakan tanaman kopi. Bahkan saat itu Mokha di Yaman menjadi pusat penjualan biji kopi. Tak hanya menjadi minuman favorit sehari-hari, kopi menjadi komoditas berharga bagi bangsa Arab. 

Baca Juga

Mereka pun melakukan pengawasan dan penjagaan ketat terhadap penjualan kopi. Salah satu aturan ketatnya adalah keluarnya larangan untuk membawa biji kopi subur ke luar Arab. Tak main-main, siapapun yang ketahuan membawa benih kopi keluar wilayah Arab, akan di hukum mati. Sehingga petani-petani kopi disana setelah panen, selalu merebus atau distelirisasi dan mengerikan biji-biji kopi agar tidak bisa lagi dimanfaatkan sebagai benih. 

Hingga pada abad ke-17, ada seorang sufi asal India bernama Baba Budan yang melakukan perjalanan ibadah Haji ke Mekkah. Sejak memasuki jazirah Arab, Baba Budan sudah jatuh cinta kepada kopi. Baba Budan semakin tidak bisa melewati harinya tanpa meminum kopi. Hal ini yang kemudian mendorong dirinya untuk bisa menanam kopi di tanah kelahirannya. Namun, seperti diketahui ada aturan ketat yang melarang membawa bibit pohon kopi keluar dari wilayah Jazirah Arab.

Kecintaannya kepada kopi, membuat Baba Budan melakukan aksi nekat yang mungkin kini harus disyukuri oleh semua penikmat kopi. Baba Budan mencari benih kopi dan kemudian menyelundupkan tujuh benih tersebut dengan cara menyelipkan dibawah lipatan kain tepat di bawah perutnya. 

Upaya tersebut berhasil mengelabuhi petugas penjaga perbatasan, dan Baba Budan selamat dari hukuman mati. Lolos dari maut, Baba Budan segera pulang ke kampung halamannya. Baba Budan kemudian menanam tujuh benih kopi selundupannya itu di sebuah bukit yang ada di Chikkamagaluru, Karnataka, di wilayah Barat Daya India.  Pohon kopi tersebut tumbuh dengan subur, hingga kini Chikkamagaluru menjadi wilayah penghasil kopi di India, dan disana ada bukit bernama Baba Budan sebagai penghormatan bagi sang pelopor penanaman dan pembudidayaan kopi di India.

Dari wilayah Chikkamagaluru, pohon kopi pun kemudian menyebar ke wilayah-wilayah sekitar, termasuk ke Ceylon, Srilangka. Dari wilayah ini juga, cerita perkembangan kopi di Nusantara dimulai, hingga kini Indonesia menjadi salah satu negara eksportir kopi terbesar di dunia.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA