Saturday, 17 Rabiul Awwal 1443 / 23 October 2021

Saturday, 17 Rabiul Awwal 1443 / 23 October 2021

Varian Covid-19 R.1 Masih dalam Pantauan WHO

Selasa 28 Sep 2021 21:56 WIB

Red: Nora Azizah

Varian Covid-19 R.1 saat ini masih tergolong 'varian under monitoring' WHO.

Varian Covid-19 R.1 saat ini masih tergolong 'varian under monitoring' WHO.

Foto: Max Pixel
Varian Covid-19 R.1 saat ini masih tergolong 'varian under monitoring' WHO.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito menyampaikan, varian baru R.1 masih dalam pemantauan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). "Saat ini varian R.1 masih tergolong varian under monitoring oleh WHO sehingga perlu ditindaklanjuti dengan monitoring lebih lanjut sebagai prinsip kehati-hatian," ujarnya dalam konferensi pers yang diikuti secara daring di Jakarta, Selasa (28/9).

Ia mengingatkan kembali munculnya varian baru Covid-19 itu menunjukkan, Covid-19 belum sepenuhnya hilang dari dunia. "Untuk itu, sikap paling bijak kita lakukan ialah konsisten menjalankan protokol kesehatan di seluruh aspek kehidupan tanpa harus takut secara berlebihan," kata Wiku.

Baca Juga

Ia mengemukakan, varian R.1 pertama kali teridentifikasi oleh WHO pada bulan Januari 2021 di Jepang. Saat ini, diketahui telah menyebar di beberapa wilayah di Amerika Serikat (AS).

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi sekaligus Koordinator PPKM Jawa-Bali Luhut Binsar Pandjaitan memastikan kedatangan dari luar negeri diperketat guna mencegah penyebaran Covid-19. Kebijakan tersebut diberlakukan khususnya dari negara-negara yang memiliki kecenderungan penularan yang tinggi.

"Kedatangan orang asing juga kami lakukan pengetatan untuk orang dari daerah-daerah yang kita anggap punya kecenderungan tinggi atau level 4, istilah kita," katanya.

Ia menyebut sejumlah negara yang dinilai memiliki potensi penularan tinggi adalah Amerika Serikat dan Turki. Luhut juga memastikan proses karantina selama delapan hari untuk mereka yang baru datang dari luar negeri tetap dilakukan. Menurut dia, hal itu dilakukan atas saran epidemiolog.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA