Sunday, 21 Syawwal 1443 / 22 May 2022

PM Bennett Banggakan Tatanan Demokrasi di Israel

Selasa 28 Sep 2021 16:10 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Teguh Firmansyah

Perdana Menteri Israel Naftali Bennett berbicara selama pertemuan kabinet mingguan di kantor Perdana Menteri di Yerusalem, Minggu, 5 September 2021.

Perdana Menteri Israel Naftali Bennett berbicara selama pertemuan kabinet mingguan di kantor Perdana Menteri di Yerusalem, Minggu, 5 September 2021.

Foto: AP/Sebastian Scheiner/Pool AP
Naftali Bennett menyatakan Israel sebagai mercusuar cahaya dan kebebasan.

REPUBLIKA.CO.ID, TEL AVIV -- Perdana Menteri Naftali Bennett menyatakan, Israel adalah mercusuar cahaya dan kebebasan, sehingga mendukung Tel Avid adalah pilihan moral. Dalam pidato pertama di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Senin (27/9), menyatakan menyerang Israel tidak membuat lebih unggul secara moral.

"Melawan satu-satunya demokrasi di Timur Tengah tidak membuat Anda 'terbangun'. Mengadopsi klise tentang Israel tanpa repot-repot mempelajari fakta-fakta dasar, yah, itu benar-benar malas," ujar Bennett dikutip dari The Jerusalem Post.

Baca Juga

Bennett menyatakan, setiap negara anggota Majelis Umum PBB memiliki pilihan. "Ini bukan pilihan politik, tapi pilihan moral. Ini adalah pilihan antara gelap dan terang," katanya.

Israel, menurut Bennett, adalah mercusuar di lautan penuh badai. Perumpamaan itu, katanya, merujuk pada sebuah demokrasi beragam yang berkontribusi pada dunia dengan inovasinya.

Bennett pun menyinggung tentang 38 negara yang memilih keluar dari Konferensi Durban IV minggu lalu. Momen itu menandai 20 tahun sejak Konferensi Dunia Menentang Rasisme yang dinilai berubah menjadi bias antisemitisme dan anti-Israel.

"Konferensi ini awalnya dimaksudkan untuk melawan rasisme, tetapi selama bertahun-tahun berubah menjadi konferensi rasisme, melawan Israel dan orang-orang Yahudi dan dunia sudah muak dengan ini. Saya berterima kasih kepada 38 negara yang memilih kebenaran daripada kebohongan dan melewatkan konferensi," ujar Bennett.

Menurut Bennett, Israel sudah terlalu lama ditentukan oleh perang dengan tetangga yang merujuk pada Palestina secara tidak langsung. Namun, dia mengaku, warga Israel tidak bangun di pagi hari memikirkan konflik.

"Orang Israel ingin menjalani kehidupan yang baik, menjaga keluarga kami, dan membangun dunia yang lebih baik untuk anak-anak kami,” kata perdana menteri itu.

Hanya saja, dari waktu ke waktu, Bennett menyatakan, mereka mungkin harus meninggalkan pekerjaan dan keluarganya. "Bergegas ke medan perang untuk membela negara kita – seperti yang harus saya dan teman-teman lakukan sendiri. Mereka seharusnya tidak diadili karena itu," ujarnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA