Tuesday, 20 Rabiul Awwal 1443 / 26 October 2021

Tuesday, 20 Rabiul Awwal 1443 / 26 October 2021

Mahasiswa UMM Beri Pelatihan Membuat Dry Flower

Selasa 28 Sep 2021 15:06 WIB

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Yusuf Assidiq

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melangsungkan pelatihan pembuatan dry flower untuk sahabat disabilitas.

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melangsungkan pelatihan pembuatan dry flower untuk sahabat disabilitas.

Foto: Humas UMM
Produk ini umumnya dikemas sebagai hadiah ulang tahun, wisuda, maupun dekorasi.

REPUBLIKA.CO.ID, MALANG -- Sejumlah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)  menggelar pelatihan pembuatan dry flower untuk sahabat disabilitas. Kegiatan ini bertujuan memberdayakan para sahabat disabilitas agar lebih mandiri ke depannya.

Salah satu mahasiswa UMM, Miftakhul Ma'firoh, menceritakan, sejumlah peserta merupakan bagian dari Gerakan untuk Kesejahteraan Tuna Rungu Indonesia (GERKATIN) Malang. Kebanyakan dari mereka mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibat serangan pandemi Covid-19.

Oleh karena itu, Mifta bersama rekan-rekannya memberikan pelatihan keterampilan pembuatan dry flower. "Dan pelatihan ini dimaksudkan agar para anggota GERAKATIN dapat memproduksi dan menjual dry flower untuk meningkatkan finansial," katanya.

Pada pelatihan ini, tim menggunakan bunga tebu untuk membuat dry flower. Meski begitu, bahan baku ini bisa diganti dengan bunga-bunga yang lain. Produk ini umumnya dikemas sebagai hadiah ulang tahun, hadiah wisuda, maupun dekorasi rumah.

"Tak terbatas pada pelatihan saja, tim juga membantu proses pemasaran produk ini melalui platform Shopee,” ungkap mahasiswa Prodi Pendidikan Biologi tersebut.

Mahasiswa asal Jombang ini menjelaskan, proses pelatihan awalnya dilakukan secara luring. Namun sejak adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), proses pelatihan dilakukan secara daring melalui Zoom.

Dalam hal berkomunikasi, Mifta dan timnya cukup terbantu oleh salah satu anggota GERKATIN yang memahami perkataan timnya memalui gerak bibir dan gerak tubuh. Menurut dia, tidak ada satu pun anggota tim yang dapat menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan para peserta.

Sebab itu, satu peserta yang memahami gerakan ucapan Mifta dan tim bertugas meneruskan informasi kepada para peserta lain menggunakan bahasa isyarat. Meskipun sulit, Mifta tetap menganggapnya sebagai suatu yang menantang dan menyenangkan.

Selama tiga bulan masa pelatihan, Mifta ditemani oleh empat anggota tim lainnya yaitu Rema Emiliana, Syahrul Bachtiar, Aggy Pramesti Wary, dan Maulidah. Mifta berharap pelatihan ini dapat meningkatkan kemandirian ekonomi bagi para anggota GERKATIN yang mengikuti pelatihan.

Meskipun kegiatan ini akan berakhir dalam waktu tiga bulan, tim tetap akan membimbing sampai para anggota GERKATIN dapat melaksanakan proses produksi hingga pemasaran secara mandiri.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA