Saturday, 17 Rabiul Awwal 1443 / 23 October 2021

Saturday, 17 Rabiul Awwal 1443 / 23 October 2021

Polri akan Tambah Jumlah Personel di Kiwirok

Selasa 28 Sep 2021 00:26 WIB

Rep: Flori Sidebang/ Red: Andri Saubani

Evakuasi warga Kiwirok ke Oksibil

Evakuasi warga Kiwirok ke Oksibil

Foto: Satgas Nemangkawi
Kondisi di Distrik Kiwirok berangsur kondusif.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepolisian berencana menambah jumlah personel untuk melakukan pengamanan di sekitar wilayah Distrik Kiwirok, Pegunungan Bintang, Papua. Hal ini dilakukan usai pasukan gabungan TNI-Polri kembali terlibat kontak senjata dengan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua, Ahad (26/9).

"Memang rencananya akan ada penambahan kekuatan (jumlah personel keamanan)," kata Kepala Operasi Nemangkawi, Brigjen Ramdani Hidayat saat dihubungi Republika, Senin (27/9).

Meski demikian, Ramdani belum menjelaskan secara terperinci mengenai rencana penambahan jumlah aparat keamanan di Distrik Kiwirok. Sebab, jelas dia, pihaknya masih melakukan koordinasi dan perencanaan secara matang terlebih dahulu.

Sementara itu, dia mengungkapkan, hingga kini kondisi di Distrik Kiwirok mulai kondusif. Walaupun masih ada beberapa gangguan yang dilakukan oleh KKB.

"Iya, gangguan penembakan," ujarnya.

Selain itu, Ramdani menuturkan, warga sipil di Distrik Kiwirok juga telah dievakuasi ke Distrik Oksibil, ibu kota Kabupaten Pegunungan Bintang. Total ada 17 orang yang diungsikan.

Untuk diketahui, dalam sebulan terakhir, terjadi sekitar tiga kali kontak senjata antara personel gabungan TNI-Polri dengan KKB di Distrik Kiwirok. Terbaru, insiden tersebut pecah pada Ahad (26/9) pagi dan menyebabkan satu anggota Brimob Polri gugur, yakni Bharatu Anumerta Muhammad Kurniadi Sutio.

Jenazah Bharatu Anumerta Muhammad Kurniadi Sutio pun sudah dievakuasi dari Distrik Kiwirok ke Bandara Oksibil. Selanjutnya, jenazah dibawa ke Jayapura untuk dipulangkan dan dimakamkan di kampung halamannya di Kampung Paniang, Aceh.

Sementara itu, Juru Bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM), Sebby Sambom mengaku, pihaknya melalui kelompok Ngalum Kupel pimpinan Lamek Taplo bertanggungjawab atas insiden tersebut. Ia juga mengklaim, dalam aksi baku tembak itu, tidak ada korban dari KKB Ngalum Kupel.

"Pihak kami belum ada korban tewas maupun luka ringan," ungkap Sebby dalam keterangan tertulisnya.

Dalam rilis terpisah, Kapolres Pegunungan Bintang, AKBP Cahyo Sukarnito mengatakan, kontak senjata Polri-TNI dengan KKB di wilayah Kiwirok, terjadi pada Ahad (26/9) sekitar pukul 05.15 WIT. Ia menjelaskan, kontak senjata tersebut berawal dari tembakan yang mengarah ke Polsek Kiwirok sekitar pukul 04.50 WIT.

Diduga, serangan tersebut dilakukan KKB Ngalum Kupel yang dipimpun Lamek Alipki Taplo. Tim Satgas Nemangkawi mengantisipasi tembakan tersebut dengan melakukan balasan.

“Satgas Nemangkawi melakukan ambush (penyergapan) dengan membuka perimeter oleh dua orang personel. Salah satunya Almarhum Bharatu M Kurniadi,” jelas Cahyo.

Saat membuka perimeter tersebut, kembali ada tembakan yang mengarah ke pasukan gabungan. “Sehingga menyebabkan peluru mengenai arteri ketiak kanan Bharatu M Kurniadi,” terang Cahyo. Sisa pasukan, kata dia, mencoba mengejar arah pelaku penembakan.

Akan tetapi, dikatakan Cahyo, tim gabungan gagal. “KKB tersebut melompat ke jurang dan melarikan diri,” jelas Cahyo.

Upaya penyelamatan medis terhadap Bharatu M Kurniadi sudah dilakukan maksimal. Akan tetapi, kata dia, upaya penyelamatan medis tersebut tak berhasil. “Kami sangat berduka atas gugurnya personel Polri, anumerta Bharatu Muhammad Kurniadi Sutio,” ujar Cahyo menambahkan.

Tak hanya sampai di situ, sebelumnya, konflik pun sempat terjadi di Distrik Kiwirok, antara aparat keamanan dan kelompok Ngalum Kupel, Selasa (21/9). Akibat insiden ini, satu anggota TNI Yonif 403/WP, Pratu Ida Bagus Putu diketahui meninggal dunia.

Kemudian, satu pekan sebelumnya, tepatnya Senin (13/9), kontak senjata juga terjadi. Bahkan, KKB Ngalum Kupel melakukan perusakan terhadap berbagai fasilitas umum milik masyarakat. Satu tenaga kesehatan meninggal dunia saat berusaha menyelamatkan diri dari penyerangan dan pembakaran puskesmas setempat.


BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA