Thursday, 27 Rabiul Akhir 1443 / 02 December 2021

Thursday, 27 Rabiul Akhir 1443 / 02 December 2021

Alasan Siswa Memilih Gap Year, dan Solusinya

Senin 27 Sep 2021 12:08 WIB

Red: Irwan Kelana

Tetaplah bergerak meski berhenti sejenak (gal year)  itu diperbolehkan.

Tetaplah bergerak meski berhenti sejenak (gal year) itu diperbolehkan.

Foto: Dok UNM
Gap year bukan berarti menanti kegagalan atau menunda kesuksesan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA  -- Bagi kamu yang tidak langsung melanjutkan pendidikan formal, setelah lulus SMA/SMK, itu disebut gap year. Banyak alasan yang mempengaruh para pelajar yang gap year, seperti ingin bekerja dulu, belum menemukan jurusan yang cocok untuk kuliah, atau kurangnya ekonomi untuk lanjut kuliah.

Akan tetapi, gap year  bukan berarti menanti kegagalan atau menunda kesuksesan. Memutuskan pilihan gap year juga bisa jadi keputusan terbaik buat kamu, dan sukses akan tetap bisa kamu raih. 

Istilah gap year atau sabbatical year merupakan sebuah periode di  mana seseorang memutuskan untuk rehat dari proses pendidikan formalnya baik itu masa sekolah ataupun memasuki masa kuliah. Konsep gap year bermula dari tradisi pemuda Jerman sebelum perang dunia ke-1, mereka memutuskan untuk rehat dari sekolah, sebab berkeliling Eropa dulu sebagai proses pendewasaan dan pencarian jati diri. Akhirnya, konsep gap year ini menyebar ke seluruh dunia, mulai dari Asia, Eropa, Amerika hingga ke Afrika.

Di Indonesia sendiri, memilih untuk gap year masih dianggap belum wajar, tapi sudah banyak juga yang memutuskan untuk gap year. Keputusan memilih gap year memang sangat bervariatif. 

Dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Senin (27/9) disebutkan, ada banyak faktor yang mengharuskan siswa pada akhirnya mengambil gap year, antara lain:

1. Belum menemukan kampus dan jurusan impian

Sebenarnya ini adalah masalah klasik, yang memang sering ditemui para siswa. Belum mampunya ia mengambil sebuah keputusan akibat kegalauan dalam memilih, bisa jadi pada akhirnya memutuskan untuk gap year. Padahal jika mereka dapat membaca situasi dan kondisi saat ini, bisa saja mereka memilih kampus dan jurusan yang sedang tren saat ini. 

Kita ambil contoh saja, saat ini sedang tren  teknologi digital, bisa saja mereka memilih kampus yang berbasis teknologi informasi atau teknologi digital. Seperti universitas-universitas ternama, banyak saat ini perguruan tinggi yang berbasis pengetahuannya teknologi. 

Sebagai bahan pertimbangan bisa saja, mereka bisa memilih Universitas Bina Nusantara (BINUS), Universitas Multimedia Nusantara, Universitas Nusa Mandiri (UNM), Universitas Trisakti, Universitas Mercu Buana, Universitas Pelita Harapan dan masih banyak lagi kampus lainnya. Di kampus-kampus ini, juga sudah tersedia banyak pilihan jurusan dengan background ilmu pengetahuan di bidang teknologi, seperti ilmu komputer, bisnis digital, informatika, teknologi informasi, dan masih banyak lagi.

2. Memilih sekolah ke luar negeri

Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China, peribahasa ini sering sekali didengar. Yang berarti mengajak generasi muda untuk tidak bermalas-malasan dan harus lebih giat dalam menuntut ilmu pengetahuan. Maka, diperbolehkan untuk memilih sekolah ke luar negeri, meski belum menjamin juga dengan sekolah atau kuliah di luar negeri punya masa depan yang bagus.

Karena semua kembali pada pribadi masing-masing. Jika di dalam negeri saja sudah banyak ditemukan sekolah-sekolah atau kampus-kampus yang berkualitas, mengapa perlu mencari sekolah ke luar negeri. Apalagi saat ini sudah ada program merdeka belajar kampus merdeka (MBKM), dimana setiap perguruan tinggi memberi kebebasan mahasiswanya untuk mengikuti proses belajar di luar program studi dan kampusnya.

Sehingga, mahasiswa diberikan kebebasan untuk memperluas wawasan ilmu pengetahuannya, tidak hanya pada bidang ilmu yang telah dipilihnya. Hampir semua perguruan tinggi di Indonesia telah mulai menerapkan MBKM ini, sehingga ada kemungkinan sekali mahasiswa dalam negeri, ikut belajar pula di luar negeri. Contoh kampus yang sudah menerapkan MBKM yakni Universitas Nusa Mandiri (UNM), Universitas Padjajaran, Universitas Brawijaya, Universitas Indonesia, Universitas BSI (Bina Sarana Informatika), Universitas Trisakti dan masih banyak lainnya.

3. Finansial keluarga belum stabil

Masalah keuangan memang menjadi kendala yang sering terjadi saat seseorang memutuskan untuk memulai jenjang baru pendidikannya. Untuk mengatasi masalah ini, banyak perguruan tinggi yang menyediakan kesempatan luas pada semua generasi yang bertekad kuat untuk melanjutkan pendidikan. 

Perguruan tinggi tersebut menyediakan berbagai macam beasiswa, seperti Universitas BSI (Bina Sarana Informatika) yang menyediakan beasiswa digital talent. Ada juga Universitas Nusa Mandiri (UNM) yang menyediakan beasiswa hebat, beasiswa transfer studi, dan masih banyak lagi yang lain. Kemudian juga ada BRI Institute yang menyediakan beasiswa aperti dari BUMN.

4. Beristirahat sejenak guna menjernihkan pikiran

Bolehlah jika kepenatan itu sudah melanda dan setiap dari kita memang membutuhkan rehat sejenak. Akan tetapi, dalam rehat bukan berarti kita tidak melakukan apa pun dan tidak merencanakan sesuatu untuk masa depan. 

Bisa saja dalam rehat, kita mengisi waktu dengan bekerja atau freelance di suatu perusahaan. Di sela-sela kegiatan itu, bisa kita gunakan untuk tetap belajar. Sehingga pikiran kita pun tidak monoton hanya berkutat pada dunia pendidikan, tapi juga ada selingan tentang dunia kerja.

Nah, bagi mereka yang memutuskan bekerja dan kuliah, maka bisa memilih kampus Universitas Nusa Mandiri (UNM), Universitas BSI (Bina Sarana Informatika), BRI Institute, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Pelita Harapan, Universitas Tarumanagara, Universitas Pancasila dan masih banyak lagi yang lain.

Jadi, buat kalian yang memutuskan untuk gap year, ya sah-sah saja. Selama itu, tidak menyurutkan semangat untuk mengejar mimpi menjadi sukses di masa depan. Tetaplah bergerak meski berhenti sejenak itu diperbolehkan.

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA