Monday, 19 Rabiul Awwal 1443 / 25 October 2021

Monday, 19 Rabiul Awwal 1443 / 25 October 2021

Iran: Pasukan Latih AS Gagal di Afghanistan dan Irak

Senin 27 Sep 2021 07:12 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini

Pasukan keamanan Afghanistan

Pasukan keamanan Afghanistan

Foto: AP Photo/Rahmat Gul
Pasukan Afghanistan yang dilatih AS gagal membendung Taliban

REPUBLIKA.CO.ID, TEHERAN -- Komandan Markas Besar Khatam al-Anbiya, Gholam Ali Rashid, berpendapat, pasukan yang dilatih oleh Amerika Serikat (AS) di Afghanistan dan Irak gagal menjalankan misi untuk memerangi teroris. Dia mencontohkan pasukan Afghanistan yang gagal membendung pergerakan Taliban ketika pasukan AS meninggalkan negara itu. 

"Hari ini, kita melihat bahwa tidak ada yang bisa melawan (membela negaranya) dengan (berpegang pada) pemikiran dan metode Amerika ketika tentara yang dilatih AS runtuh di Irak melawan ISIL dan di Afghanistan melawan Taliban," ujar Rashid, dilansir Sputnik News, Senin (27/9). 

Baca Juga

Taliban melancarkan serangan terhadap pasukan pemerintah Afghanistan, ketika pasukan AS mulai menarik diri dari negara tersebut. Tentara Afghanistan  menyerahkan provinsi dan sejumlah distrik utama kepada Taliban tanpa perlawanan. Bahkan, banyak pasukan Afghanistan yang berpindah pihak dalam konflik tersebut.  

Taliban dengan mudah merebut Kabul pada 15 Agustus, dengan mengatakan bahwa perang telah berakhir. Sementara mantan Presiden Ashraf Ghani, melarikan diri ketika Taliban memasuki Kabul.

Pada 30 Agustus, Pentagon mengkonfirmasi bahwa kehadiran AS selama hampir 20 tahun di Afghanistan berakhir. Hal ini ditandai dengan terbangnya pesawat Boeing C-17 terakhir dari Bandara Internasional Hamid Karzai di Kabul.  

Pasukan AS menginvasi Afghanistan di bawah pemerintahan mantan Presiden George W. Bush pada 2001. Invasi tersebut sebagai bagian dari misi "Perang Melawan Teror" setelah serangan teroris 9/11 yang didalangi oleh Alqaeda. 

Invasi tersebut mengakibatkan kematian 2.448 prajurit AS dan lebih dari 47.200 warga sipil Afghanistan. Invasi juga merugikan pembayar pajak sekitar 2,261 triliun dolar AS.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken meyakinkan Presiden Irak Barham Salih bahwa, misi tempur AS melawan ISIS belum berakhir. AS akan beralih ke fase baru berdasarkan peningkatan kemampuan Pasukan Keamanan Irak.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA