Ahad 26 Sep 2021 17:18 WIB

Warga Dilarang Berkegiatan di Daerah Potensi Bahaya Merapi

Aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih cukup tinggi berupa aktivitas erupsi efusif.

Rep: Wahyu Suryana/ Red: Friska Yolandha
Gunung Merapi mengeluarkan lava pijar terlihat dari Turi, Sleman, DI Yogyakarta, Kamis (9/9). Sejumlah destinasi wisata yang ada di Kabupaten Sleman mulai uji coba pembukaan seiring pelonggaran PPKM ke level tiga. Namun, untuk Gunung Merapi, masyarakat masih diminta tidak melakukan kegiatan di daerah potensi bahaya.
Foto: ANTARA/Hendra Nurdiyansyah
Gunung Merapi mengeluarkan lava pijar terlihat dari Turi, Sleman, DI Yogyakarta, Kamis (9/9). Sejumlah destinasi wisata yang ada di Kabupaten Sleman mulai uji coba pembukaan seiring pelonggaran PPKM ke level tiga. Namun, untuk Gunung Merapi, masyarakat masih diminta tidak melakukan kegiatan di daerah potensi bahaya.

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Sejumlah destinasi wisata yang ada di Kabupaten Sleman mulai uji coba pembukaan seiring pelonggaran PPKM ke level tiga. Namun, untuk Gunung Merapi, masyarakat masih diminta tidak melakukan kegiatan di daerah potensi bahaya.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Hanik Humaida mengatakan, secara visual cuaca di sekitar Merapi cerah pada pagi dan malam hari. Sedangkan, pada siang sampai sore hari berkabut.

Baca Juga

Asap putih, ketebalan tipis-tebal, tekanan lemah dan tinggi 150 meter teramati dari Pos PGM Selo pada 19 September 2021. Periode 17-23 September 2021, guguran lava tercatat 141 kali ke barat daya dengan jarak luncur maksimal 2.000 meter.

Teramati adanya sedikit perubahan morfologi di kubah lava barat daya. Volume kubah lava barat daya sebesar 1.600.000 meter kubik dan kubah tengah sebesar 2.854.000 meter kubik. Pekan ini, tercatat lima kali gempa vulkanik dangkal.

Kemudian, tercatat 260 kali gempa low frekuensi, 251 kali gempa fase banyak, 1.357 kali gempa guguran, 895 kali gempa hembusan dan empat gempa tektonik. Hanik menekankan, intensitas kegempaan pada pekan ini masih cukup tinggi.

"Deformasi Gunung Merapi yang dipantau dengan menggunakan EDM dan GPS pada pekan ini tidak menunjukkan perubahan yang signifikan," kata Hanik, Sabtu (26/9).

Pekan ini, terjadi hujan di Pos PGM dengan intensitas curah hujan sebesar 40 milimeter per jam selama 50 menit di Pos Ngepos pada 21 September 2021. Meski begitu, tidak dilaporkan lahar dan penambahan aliran di sungai-sungai yang berhulu di Merapi.

"Aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih cukup tinggi berupa aktivitas erupsi efusif," ujar Hanik.

Status aktivitas masih dalam siaga. Potensi bahaya masih lava dan awan panas di sektor tenggara–barat daya maksimal tiga kilometer ke arah Kali Woro. Serta, lima kilometer ke arah Kali Gendol, Kuning, Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng dan Putih.

Lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius tiga km dari puncak. Karenanyak Pemkab Sleman, Magelang, Boyolali dan Klaten diminta melakukan upaya-upaya mitigasi menghadapi ancaman bahaya erupsi yang bisa terjadi.

Hanik meminta masyarakat mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik erupsi dan mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan seputar Merapi. Penambangan di alur sungai yang berhulu Merapi dalam KRB III direkomendasikan dihentikan.

"Masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya. Pelaku wisata direkomendasikan untuk tidak melakukan kegiatan di daerah potensi bahaya dan bukaan kawah sejauh lima kilometer dari puncak Merapi," kata Hanik.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement