Thursday, 15 Rabiul Awwal 1443 / 21 October 2021

Thursday, 15 Rabiul Awwal 1443 / 21 October 2021

Korsel Tanggapi Pertimbangan Korut untuk Dialog

Senin 27 Sep 2021 00:51 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini

Bendera Korea Selatan dan Korea Utara. Ilustrasi

Bendera Korea Selatan dan Korea Utara. Ilustrasi

Foto: gallerychip.com
Kementerian Unifikasi Korsel mengharapkan untuk segera terlibat dialog dengan Korut

REPUBLIKA.CO.ID, PYONGYANG -- Korea Utara (Korut) kemarin, Sabtu (25/9), mempertimbangkan pertemuan dengan Korea Selatan (Korsel). Rencana pertemuan yang dilayangkan oleh adik perempuan Kim Jong-un, Kim Yo-jong harus terlaksana apabila kedua negara bertetangga itu saling menghormati.

"Saya pikir hanya ketika ketidakberpihakan dan sikap menghormati satu sama lain dipertahankan, dapat ada pemahaman yang lancar antara utara dan selatan," kata Kim Yo-jong, yang merupakan orang kepercayaan kuat dari saudara laki-lakinya.

Baca Juga

Kim Yo-jong mengatakan, bahwa diskusi konstruktif berkesempatan untuk mencapai solusi pada isu-isu seperti pembentukan kembali kantor penghubung bersama utara-selatan. Pertemuan tingkat tinggi Korut-Korsel juga disinggungnya.

"Dan KTT utara-selatan, untuk tidak mengatakan apa-apa tentang deklarasi tepat waktu dari penghentian perang yang signifikan," kata Kim.

Korsel menyambut baik prospek tersebut pada Ahad (26/9). Kementerian Unifikasi Korsel mengatakan pihaknya mengharapkan untuk segera terlibat dalam pembicaraan dengan Pyongyang. Korsel juga mendesak perlunya memulihkan hubungan hotline antara keduanya.

"Untuk diskusi ini, jalur komunikasi antar-Korea pertama-tama harus dipulihkan dengan cepat, karena komunikasi yang lancar dan stabil adalah penting," kata pernyataan Korsel. Hotline, yang dikelola oleh militer Korsel untuk menangani hubungan dengan Pyongyang, tidak beroperasi sejak Agustus, karena Korut berhenti menjawab panggilan. 

Komentar Kim muncul setelah Korut mendesak Amerika Serikat (AS) dan Korsel pada pekan lalu untuk meninggalkan apa yang disebutnya kebijakan bermusuhan dan standar ganda mereka, jika pembicaraan formal akan diadakan untuk mengakhiri Perang Korea 1950-53. Pencarian senjata nuklir Korut telah memperumit pertanyaan tentang akhir resmi perang kedua Korea. Sebab, perang dihentikan dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai. Oleh karenanya, pasukan PBB yang dipimpin AS secara teknis masih berperang dengan Utara.

Berbicara di Majelis Umum PBB, Presiden Korsel Moon Jae-in telah mengulangi seruan untuk mengakhiri perang secara resmi. Namun kemudian mengatakan waktu hampir habis untuk kemajuan damai sebelum masa jabatannya berakhir pada Mei.

Korut telah berusaha untuk mengakhiri perang selama beberapa dekade, tetapi AS enggan untuk menyetujuinya, kecuali jika Korut menyerahkan senjata nuklirnya. Dalam sambutannya Sabtu, Kim mengatakan dia memperhatikan diskusi yang intens di Selatan mengenai prospek baru dari deklarasi formal.

"Saya merasa bahwa suasana publik Korea Selatan yang ingin memulihkan hubungan antar-Korea dari kebuntuan dan mencapai stabilitas damai sesegera mungkin sangat kuat," katanya. "Kami juga memiliki keinginan yang sama," katanya.

Saat mantan Presiden AS Donald Trump bertemu dengan Kim Jong-un di Singapura pada 2018 lalu, muncul harapan Perang Korea akan segera resmi diakhirinya. Tapi setelah tiga kali pertemuan pemerintah Trump tidak menghasilkan kesepakatan apa-apa dengan Korut.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA