Thursday, 15 Rabiul Awwal 1443 / 21 October 2021

Thursday, 15 Rabiul Awwal 1443 / 21 October 2021

Pakta AUKUS Pengaruhi Dialog Rusia dan Uni Eropa

Ahad 26 Sep 2021 11:19 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov

Foto: Reuters
Rusia dinilai akan merasakan konsekuensi dari pakta keamanan AUKUS

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan, bahwa pakta di bidang keamanan oleh Australia, Inggris, dan Amerika Serikat (AUKUS) dapat mempengaruhi hubungan antara Rusia dan Uni Eropa. Dia yakin bahwa Rusia bakal merasakan konsekuensi dari pakta yang disepakati tersebut.

"Tentu saja, kami dapat merasakan konsekuensi dari apa yang terjadi di sana. Ini dapat mempengaruhi hubungan kami dengan Uni Eropa (UE), dan dapat membangkitkan minat UE untuk akhirnya bekerja sama dengan kami, menggunakan keuntungan geopolitik dan geostrategis yang jelas berada di satu benua besar terutama karena pusat pembangunan global bergeser ke kawasan Asia," kata Lavrov seperti dikutip laman Sputnik, Ahad (26/9).

Baca Juga

Menurutnya, kesepakatan antara Australia, Amerika Serikat (AS), dan Inggris atas kapal selam, terlebih terjadinya setelah penarikan dari Afghanistan, menimbulkan pertanyaan. "Prancis, selain pelanggaran dari sudut pandang komersial, mungkin mempertimbangkan seberapa andal aliansi ini dan bagaimana pembicaraan tentang otonomi strategis Eropa menjadi jauh lebih relevan sekarang," ujarnya.

Kesepakatan pakta keamanan trilateral diumumkan oleh Presiden AS Joe Biden pada Rabu (15/9). Kemitraan ini akan memungkinkan Canberra membangun armada baru kapal selam bertenaga nuklir di galangan Australia. Kapal itu akan menggunakan teknologi Amerika dan Inggris.

Pakta dari aliansi itu pun mengakibatkan masalah besar antara Canberra dan Paris. Hal itu dikarenakan Australia membatalkan kesepakatan kapal selam bernilai miliaran dolar dengan Prancis.

Menurut Pengajar hubungan internasional Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah pakta ini pun dinilai sebagai momen untuk Indonesia menunjukkan komitmennya sebagai negara netral. Indonesia mengutamakan dan menghargai hukum internasional untuk menciptakan perdamaian yang adil yang dalam hal ini, menurutnya, Indonesia harus menekankan ke semua pihak tentang perjanjian Southeast Asia Nuclear Weapon Free Zone.

Indonesia juga harus memaksakan kepada semua pihak untuk menghargai hukum internasional UNCLOS 1982. "Mereka semua sebenarnya menunggu apa sikap Indonesia. Jadi pada dasarnya kita itu bebas, aktif, kreatif, dan bertenaga, karena tak mungkin kita dihargai oleh mereka kalau kita tak bertenaga," ujarnya.

Teuku menjelaskan Indonesia bertenaga yang dimaksud adalah mempersenjatai diri dari sumber-sumber yang juga netral. Rusia dipilih sebagai sumber netral. "Kita harus mengupayakan momentum yang pas ini, AS tidak, China tidak, tapi Rusia netral, jadi menurut saya pembelian Sukhoi 35 Rusia harus direalisasikan," kata dia.

Dia mengatakan, Presiden RI Joko Widodo harus mendatangkan Sukhoi 35 Rusia agar Indonesia tidak dianggap lemah oleh pihak China maupun AS. "Kita bermain cantik seperti tahun 60-an ketika Jenderal Nasution berkunjung ke Rusia dalam pembelian besar-besaran, sekarang pak Prabowo cukup datangkan saja," kata dia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA