Sunday, 18 Rabiul Awwal 1443 / 24 October 2021

Sunday, 18 Rabiul Awwal 1443 / 24 October 2021

Ciri Produk Pelangsing yang Harus Anda Jauhi

Ahad 26 Sep 2021 07:53 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Qommarria Rostanti

Ciri obat pelangsing yang harus dijauhi (ilustrasi).

Ciri obat pelangsing yang harus dijauhi (ilustrasi).

Foto: www.freepik.com.
Semua janji penurunan berat badan yang tampak ajaib sama sekali tidak benar.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Memiliki berat badan yang sehat dan tubuh yang ramping merupakan dambaan bagi banyak orang. Akan tetapi, sebagian orang lebih memilih jalan pintas untuk mencapai berat badan idaman, dengan bergantung pada produk pelangsing "ajaib".

Saat ini ada cukup banyak produk pelangsing "ajaib" yang dipasarkan dengan klaim-klaim fantastis. Sebagian produk tersebut bahkan turut dipromosikan oleh selebriti atau influencer terkenal.

"Pengiklan tak jujur akan mengatakan apa pun untuk membuat Anda membeli produk penurun berat badan mereka," jelas Federal Trade Commission, seperti dilansir WebMD, beberapa waktu lalu.

Oleh karena itu, produk pelangsing dengan klaim yang tampak terlalu bagus untuk menjadi kenyataan patut diwaspadai dan dihindari. Ada beberapa klaim yang umum digunakan dalam produk pelangsing "ajaib" seperti ini.

Sebagian dari klaim tersebut adalah "dapat menurunkan berat badan tanpa mengubah pola makan atau olahraga" dan "pengguna dapat makan apa saja dan tetap bisa menurunkan berat badan". Contoh klaim lain yang juga sangat sering digunakan adalah "bisa menurunkan berat badan belasan kilogram dalam 30 hari" serta "pengolesan atau penempelan produk ini akan membakar lemak".

Federal Trade Commission mengatakan semua janji penurunan berat badan yang tampak ajaib ini sama sekali tidak benar. Federal Trade Commission juga menegaskan bahwa tak ada cara pintas untuk menurunkan berat badan.

"Tak ada cara ajaib untuk menurunkan berat badan tanpa olahraga rutin dan diet yang masuk akal," ujar Federal Trade Commission.

Produk pelangsing dengan klaim bombastis seringkali merugikan konsumen. Mereka akan tergoda untuk mengeluarkan banyak uang untuk produk yang sebenarnya tidak bekerja secara efektif untuk menurunkan berat badan.

Tak hanya itu, Food and Drug Administration atau FDA bahkan menemukan ada beberapa produk pelangsing yang berpotensi mengandung obat atau zat kimia yang berbahaya. Akan tetapi, kandungan berbahaya tersebut tidak dicantumkan dalam kemasan produk.

Hal senada juga diungkapkan oleh dokter Pieter Cohen MD dari Cambridge Health Alliance. Dr Cohen mengatakan beberapa produk yang mempromosikan penurunan berat badan dapat mengandung bahan yang tak disebutkan pada kemasan.

Hal ini dia buktikan melalui sebuah studi pada Maret lalu. Kala itu, dr Cohen dan koleganya mengetes 17 merek dan menemukan sembilan stimulan terlarang di dalamnya. Hampir setengah dari merek yang diteliti mengandung setidaknya satu stimulan terlarang.

Pada 2016, Consumer Reports juga merilis daftar 15 produk suplemen pelangsing yang berisiko memicu bahaya. Beberapa bahaya yang mungkin ditimbulkan dari produk tersebut adalah kejang, serangan jantung, masalah ginjal dan hati, dan bahkan kematian.

FDA menambahkan ada beberapa hal penting lain yang juga perlu dipertimbangkan agar konsumen bisa menjadi pembeli yang bijak. Salah satunya adalah membeli produk dari situs bereputasi baik dan mewaspadai klaim yang terkesan terlalu baik untuk menjadi nyata.

Waspadai pula produk dengan klaim-klaim yang mencurigakan. Misalnya "tidak memberikan efek samping" atau "bekerja lebih baik dibandingkan obat resep dokter". FDA juga memperingatkan bahwa klaim "alami" tidak selalu berarti "aman".

"Banyak suplemen dan makanan penurun berat badan ajaib tidak dapat mewujudkan klaimnya dan malah menyebabkan kerugian serius," ujar juru bicara FDA, Courtney Rhodes.

Ahli gizi dan juru bicara Academy of Nutrition and Dietetics Angel Planells mengingatkan bahwa penurunan berat badan membutuhkan kerja keras. Yaitu kerja keras dalam hal menjaga kesehatan, menerapkan pola makan yang sehat dan seimbang, aktif secara fisik, serta menjaga kesehatan mental.

"Dan tidur cukup untuk istirahat dan pemulihan," kata Planells. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA