Monday, 12 Rabiul Awwal 1443 / 18 October 2021

Monday, 12 Rabiul Awwal 1443 / 18 October 2021

Studi Terbaru Bantah Covid-19 Berasal dari Kebocoran Lab

Ahad 26 Sep 2021 05:40 WIB

Red: Nur Aini

Covid 19 (ilustrasi)

Covid 19 (ilustrasi)

Foto: Max Pixel
Studi Covid-19 didasarkan pada pemeriksaan pengurutan genetika secara teliti

REPUBLIKA.CO.ID, CANBERRA -- Sebuah studi baru memberikan bukti yang mematahkan teori Covid-19 bermula dari "kebocoran laboratorium". Hal itu menurut laporan media Australia.

Laporan pracetak studi tersebut yang dirilis via internet "menyajikan bukti kuat yang mendukung teori 'limpahan alami'" asal mula Covid-19, dengan hasil "yang sulit disamakan dengan teori 'kebocoran lab'," kata Hamish McCallum, direktur Center for Planetary Health and Food Security di Universitas Griffith, dalam artikel The Conversation pada Jumat (24/9).

Baca Juga

Menurut artikel itu, studi tersebut didasarkan pada pemeriksaan pengurutan genetika secara teliti dari dua garis keturunan awal dari orang-orang yang terinfeksi pada akhir 2019 hingga awal 2020. Kedua garis keturunan itu dibedakan oleh dua nukleotida di dua tempat utama yang berbeda dalam pengurutan gen.

"Seandainya terjadi peristiwa kebocoran laboratorium tunggal, pemisahan menjadi garis keturunan A dan B pasti sudah terjadi setelah kebocoran laboratorium," kata artikel tersebut."

Oleh karenanya kami berharap dapat menemukan sejumlah substansi dari garis keturunan perantara, dengan garis keturunan nukleotida A berada di satu tempat dan garis keturunan nukleotida B berada di tempat lain.

"Namun, jika hampir semua pengurutan gen yang diperoleh dari manusia adalah murni garis keturunan A atau murni garis keturunan B, maka ini menunjukkan bahwa terdapat sedikitnya dua peristiwa limpahan berbeda, baik dari kelelawar langsung atau melalui inang perantara," kata artikel itu.

"Dan evolusi dari dua garis keturunan terjadi sebelum manusia terinfeksi."

"Karena itu, bukti genetik dengan sangat kuat memperlihatkan bahwa terdapat sedikitnya dua peristiwa limpahan berbeda pada populasi manusia," kata artikel tersebut.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA