Saturday, 10 Rabiul Awwal 1443 / 16 October 2021

Saturday, 10 Rabiul Awwal 1443 / 16 October 2021

PPNI: Sekitar 7.500 Perawat Bertugas di Papua

Ahad 26 Sep 2021 02:17 WIB

Rep: Mimi Kartika/ Red: Esthi Maharani

Perawat melawan Covid-19 (ilustrasi)

Perawat melawan Covid-19 (ilustrasi)

Foto: republika
Jumlah perawat yang bertugas di daerah konflik di Papua tidak diketahui secara pasti

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) mencatat, sekitar 7.500 perawat bertugas di Papua. Ketua Umum PPNI Harif Fadillah mengatakan tidak mengetahui dengan pasti jumlah perawat yang bertugas di daerah konflik di Papua karena sebutan daerah konflik itu sendiri juga tidak jelas.

"Kami belum begitu mendapatkan angka yang bersih cuma di Papua itu totalnya saja sudah 7.500 orang perawat," ujar Harif dalam diskusi daring bertajuk Peduli Lindungi Nakes di Daerah Konflik, Sabtu (25/9).

Dia menuturkan, tidak ada perbedaan kontrak kerja perawat di daerah konflik maupun daerah normal. Kontrak kerja perawat dibedakan berdasarkan penugasan, ada yang ditugaskan pemerintah pusat baik tim atau individu serta penugasan pemerintah daerah.

Menurut Harif, nakes yang menjadi korban penyerangan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di puskesmas di Distrik Kiwirok, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, merupakan penugasan pemerintah daerah setempat. Akan tetapi, kata dia, mereka bukan pegawai negeri sipil (PNS) atau pun tenaga kontrak sehingga tidak jelas pula kompensasi yang didapatkannya.

"Kalau terjadi hal-hal seperti ini pun kita enggak jelas apa yang mereka dapat, kompensasi apa, perhatian apa, itu belum kita dapatkan informasinya seperti apa. Kalau misalnya masa pandemi kan sudah ada yang meninggal dapat santunan. Kalau mereka enggak dapat," kata Harif.

Harif juga menegaskan tidak ada kontrak kerja siap mati kepada perawat jika ditugaskan di daerah tertentu. Para tenaga kesehatan justru lebih merasa mendapatkan jaminan keamanan dan keselamatan ketika bekerja di seluruh wilayah di Indonesia, daripada ditugaskan ke luar negeri.

Sementara, asuransi yang didapatkan perawat seperti kesehatan dan kematian sangat bervariasi, tergantung kontrak kerja dan pihak mana yang menugaskan. "Kalau yang di Kiwirok ini saya belum tahu," tutur Harif.

Dia menambahkan, peristiwa penyerangan yang menyebabkan perawat menjadi korbannya sudah dua kali terjadi. Sebelum kasus Kiwirok yang menewaskan nakes Gabriela Meilan dan empat rekannya mengalami luka berat, dua tahun lalu perawat ditembak hingga kehilangan nyawa di Tanah Papua.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA