Monday, 19 Rabiul Awwal 1443 / 25 October 2021

Monday, 19 Rabiul Awwal 1443 / 25 October 2021

Olahraga atau Diet, Mana yang Lebih Efektif Atasi Obesitas?

Sabtu 25 Sep 2021 02:03 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Evan Leedy berolahraga di tempat kebugran. studi menunjukkan bahwa perbaikan pada kebugaran kardiorespirasi dan aktivitas fisik tampak lebih efektif bagi individu dengan obesitas

Evan Leedy berolahraga di tempat kebugran. studi menunjukkan bahwa perbaikan pada kebugaran kardiorespirasi dan aktivitas fisik tampak lebih efektif bagi individu dengan obesitas

Foto: AP Photo/Paul Sancya
Studi terbaru menunjukkan mengatur makan atau diet tak terlalu efektif atasi obesitas

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Obesitas merupakan masalah kesehatan yang dialami di banyak negara. Pengaturan pola makan atau diet seringkali lebih diutamakan untuk mengatasi obesitas dibandingkan olahraga. Pendekatan ini ternyata kurang tepat menurut studi terbaru.

Per 2016, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan ada lebih dari 1,9 miliar orang dewasa yang kegemukan di dunia, dan sebanyak 650 juta orang di antaranya obesitas. Angka tersebut meningkat hampir tiga kali lipat bila dibandingkan dengan 1975.

Pada kelompok obesitas, diet dengan membatasi asupan kalori seringkali disarankan. Akan tetapi, cara seperti ini cukup sulit untuk dipertahankan dalam jangka panjang.

Banyak individu dengan obesitas yang tak dapat mencapai target berat badan mereka hanya dengan pembatasan asupan kalori. Cukup banyak pula individu yang berhasil mencapai target berat badan namun kesulitan untuk mempertahankannya.

Kedua situasi tersebut dapat memicu frustrasi dan menurunkan tingkat kepatuhan pada program penurunan berat badan. Situasi ini dapat memunculkan siklus berat badan yang naik-turun. Fluktuasi berat badan ini kerap dikaitkan dengan risiko masalah kesehatan.

Sejauh ini, panduan manajemen obesitas masih menganjurkan pembatasan asupan kalori dan peningkatan aktivitas fisik. Akan tetapi, selama dua dekade ke belakang, beberapa ilmuwan menilai bahwa fokus penurunan berat badan pada kasus obesitas perlu diubah.

Mereka lebih merekomendasikan pendekatan "gemuk tapi sehat" bagi individu yang ingin menurunkan kelebihan berat badan. Pendekatan ini lebih berfokus pada peningkatan aktivitas fisik dan memperbaiki kebugaran kardiorespirasi.

Peningkatan aktivitas fisik merujuk pada gerakan tubuh apa pun yang memicu pengeluaran energi. Sedangkan kebugaran kardiorespirasi berkaitan dnegan kemampuan sistem kardiovaskular dan respirasi dalam mempertahankan aktivitas fisik dalam jangka waktu yang lebih lama.

Studi dalam jurnal iScience menunjukkan bahwa pendekatan "gemuk tapi sehat" ini memiliki efektivitas yang setidaknya sama dengan pendekatan penurunan berat badan biasa dalam hal menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dan kematian akibat obesitas. Tak hanya itu, pendekatan "gemuk tapi sehat" yang berfokus pada kebugaran tubuh juga terbukti sebagai strategi yang dapat menghindari kesulitan seperti pada pendekatan penurunan berat badan.

Peneliti Dr Glenn Gaesser dari Arizona State University mengatakan saat ini praktik penurunan berat badna yang tak sehat jauh lebih umum dilakukan oleh orang-oreng dengan indeks massa tubuh (IMT) yang tinggi. Efek berat badan naik-turun yang ditimbulkan dari hal ini dinilai turut berkontribusi pada risiko kesehatan yang berkaitan dengan obesitas.

"Berat badan naik-turun berkaitan dengan peningkatan risiko kematian, dan berat badan naik-turun lebih umum ditemukan pada orang-orang dengan obesitas," ujar Dr Gaesser, seperti dilansir Medical News Today.

Sebaliknya studi menunjukkan bahwa perbaikan pada kebugaran kardiorespirasi dan aktivitas fisik tampak lebih efektif bagi individu dengan obesitas. Latihan fisik atau olahraga juga tampak memperbaiki kontrol kadar gula darah, kadar kolesterol darah, dan fungsi vaskular. Efek-efek dari latihan fisik ini merupakan penanda independen dari terjadinya penurunan berat badan.

Olahraga pun tampak efektif dalam mengurangi penumpukan lemak di hati dan perut atau lemak visceral. Seperti diketahui, lemak yang menumpuk di hati dan organ-organ lain di dalam perut berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2.

Berdasarkan temuan terbaru ini, peneliti menekankan bahwa tenaga kesehatan profesional tidak perlu menjauhi upaya penunrunan berat badan dari pembatasan asupan kalori. Akan tetapi, peneliti mengimbau agar pendekatan tersebut tidak menjadi fokus utama dalam manajemen obesitas.

"(Studi kami) menunjukkan bahwa memperbaiki kebugaran dengan meningkatkan aktivitas fisik berkaitan dengan penurunan yang lebih besar dalam risiko kematian dibandingkan penurunan berat badan," jelas Dr Gaesser.

Oleh karena itu, bila fokus utama dalam pengobatan obesitas adalah meningkatkan kesehatan dan harapan hidup, perbaikan kebugaran tubuh perlu lebih difokuskan dibandingkan penurunan berat badan. Dr Gaesser juga berharap agar panduan obesitas dapat menjadikan perbaikan kebugaran sebagai fokus yang juga penting untuk diperhatikan. 

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA