Thursday, 27 Rabiul Akhir 1443 / 02 December 2021

Thursday, 27 Rabiul Akhir 1443 / 02 December 2021

Taliban Minta Rusia Bantu Hentikan Rantai Perdagagan Narkoba

Jumat 24 Sep 2021 14:17 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini

Milisi Taliban berjalan melalui gang-gang di area kosong di penjara Pul-e-Charkhi di Kabul, Afghanistan, Senin, 13 September 2021. Pul-e-Charkhi sebelumnya adalah penjara utama pemerintah untuk menahan Taliban yang ditangkap dan sudah lama terkenal untuk pelanggaran, kondisi yang buruk dan kepadatan yang parah dengan ribuan tahanan. Sekarang setelah pengambilalihan negara itu, Taliban mengendalikannya dan membuatnya kembali berjalan, saat ini menahan sekitar 60 orang, terutama pecandu narkoba dan tersangka penjahat.

Milisi Taliban berjalan melalui gang-gang di area kosong di penjara Pul-e-Charkhi di Kabul, Afghanistan, Senin, 13 September 2021. Pul-e-Charkhi sebelumnya adalah penjara utama pemerintah untuk menahan Taliban yang ditangkap dan sudah lama terkenal untuk pelanggaran, kondisi yang buruk dan kepadatan yang parah dengan ribuan tahanan. Sekarang setelah pengambilalihan negara itu, Taliban mengendalikannya dan membuatnya kembali berjalan, saat ini menahan sekitar 60 orang, terutama pecandu narkoba dan tersangka penjahat.

Foto: AP/Felipe Dana
Volume produksi opium ilegal telah melonjak antara 17 hingga 40 kali di Afghanistan

REPUBLIKA.CO.ID, KABUL -- Pemerintahan Taliban ingin memutus semua rute perdagangan narkoba dari Afghanistan ke negara lain. Juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid mengatakan, Taliban meminta bantuan Rusia untuk mengatasi masalah tersebut.

“Kami ingin menghentikan peredaran narkoba dari Afghanistan ke negara lain. Kami akan memblokir semua rute. Menanam ganja di Afghanistan juga merupakan masalah serius. Penting untuk memberikan alternatif kepada petani. Dalam hal ini, banyak negara, termasuk  Rusia, bisa membantu memutus jalur perdagangan narkoba", kata Mujahid, dilansir Sputnik News, Jumat (24/9).

Baca Juga

Menurut perkiraan, volume produksi opium ilegal telah melonjak antara 17 hingga 40 kali sejak 2001, ketika pasukan Amerika Serikat (AS) menginvasi Afghanistan. Amerika Serikat telah menghabiskan 8,6 miliar dolar AS untuk memerangi produksi obat-obatan di Afghanistan. Namun, Afghanistan tetap menjadi produsen opium terbesar di dunia.

Menurut laporan SIGAR (Special Inspector General of Afghanistan Reconstruction) 2017, sekitar 328.000 hektare lahan di Afghanistan digunakan untuk budidaya opium. Ketika itu ladang opium naik 63 persen dibandingkan pada 2016 yang merupakan tingkat tertinggi sejak 2002.

Laporan SIGAR juga menunjukkan, sekitar 900 ton heroin murni kualitaa ekapor diproduksi di Afghanistan tahun lalu. Jumlah penjualan heroin tersebut dapat menjadi insentif untuk perluasan zona pertempuran di seluruh Afghanistan.

Sementara di sisi lain, Mujahid mencatat bahwa pemerintahan Taliban tidak akan melakukan ekstradisi terhadap mantan Presiden Ashraf Ghani. Tetapi Taliban meminta agar Ghani mengembalikan dana yang dibawa kabur pada Agustus lalu.

"Tidak, kami tidak melakukan ekstradisi terhadap Ghani. Tapi Ashraf Ghani telah mencuri dana negara dan kami menuntut agar mereka dikembalikan ke bank. Itu milik rakyat dan bank kami," kata Mujahid. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA