Sunday, 18 Rabiul Awwal 1443 / 24 October 2021

Sunday, 18 Rabiul Awwal 1443 / 24 October 2021

RSPON: Tak Ada Korelasi Antara Pendarahan Otak dan Vaksinasi

Jumat 24 Sep 2021 12:19 WIB

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Friska Yolandha

Ilustrasi pasien di rumah sakit. Pemimpin Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) Prof Mahar Mardjono Jakarta menyampaikan klarifikasi bahwa tidak ada korelasi antara stroke pendarahan atau pendarahan otak atau stroke hemoragik dan vaksinasi COVID-19.

Ilustrasi pasien di rumah sakit. Pemimpin Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) Prof Mahar Mardjono Jakarta menyampaikan klarifikasi bahwa tidak ada korelasi antara stroke pendarahan atau pendarahan otak atau stroke hemoragik dan vaksinasi COVID-19.

Foto: Public Domain Pictures
Pendarahan yang dialami pelawak Tukul Arwana tak berkaitan dengan vaksinasi Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemberitaan mengenai pendarahan otak yang dialami komedian Tukul Arwana, banyak yang mengaitkan dengan vaksin yang baru ia lakukan tiga hari sebelum pendarahan itu terjadi. Dirut Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON) Prof Dr dr Mahar Mardjono, Mursyid Bustami, mengatakan tidak ada hubungannya pendarahan otak dengan vaksin Covid-19.

"Kami perlu menegaskan bahwa dari berita yang beredar perlu diklarifikasi, tidak ada hubungannya pendarahan otak atau stroke pendarahan dengan vaksin COVID-19," katanya, Jumat (24/9).

Baca Juga

"Kami mengklarifikasi bahwa tidak ada hubungan antara atau tidak ada stroke pendarahan yang disebabkan oleh vaksinasi COVID-19. Ini perlu diketahui masyarakat supaya tidak terjadi suatu kesalahpahaman," ia menambahkan.

Mursyid menjelaskan bahwa stroke hemoragik adalah pecahnya pembuluh darah di otak akibat tekanan yang tinggi pada pembuluh darah yang sebetulnya sudah memiliki potensi untuk bocor atau pecah. "Pembuluh darah itu ada titik lemahnya di otak itu, dan pada waktu tertentu mungkin tekanannya meningkat, maka tidak kuat lagi pembuluh darah itu menahan, sehingga pecah," katanya.

Dalam kondisi yang demikian terjadi, bekuan darah akan keluar dari pembuluh darah. Sehingga, hal itu mengganggu fungsi otak di sekitarnya.

Pendarahan otak yang spontan itu disebut stroke. Dan stroke ini bukan penyakit yang memiliki faktor risiko.

Baca juga : Wiku Ingatkan Penyelenggaraan PON Papua Patuhi Prokes

Artinya, ada kondisi tubuh lain yang berpotensi untuk terjadinya stroke. Ada risiko yang tidak bisa dikendalikan dan risiko yang bisa dikendalikan.

Mursyid menambahkan, tanda-tanda stroke meliputi kelumpuhan pada wajah atau anggota badan, bicara tidak lancar, bicara tidak jelas, perubahan kesadaran, dan gangguan penglihatan. “Kalau sudah kena stroke tidak ada waktu lagi, harus segera ke rumah sakit, semakin cepat ditangani, maka semakin cepat dokter melakukan tindakan dan semakin membaik otaknya,” ungkap Mursyid.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA