Sunday, 18 Rabiul Awwal 1443 / 24 October 2021

Sunday, 18 Rabiul Awwal 1443 / 24 October 2021

99% Anggota Tapak Suci Muhammadiyah Mesir Warga Asli

Jumat 24 Sep 2021 12:14 WIB

Red: Muhammad Subarkah

Anggota Tapak Suci Mesir dalam sebuah festival perlombaan. 99% Anggota Perguruan silat ini adalah warga asli.

Anggota Tapak Suci Mesir dalam sebuah festival perlombaan. 99% Anggota Perguruan silat ini adalah warga asli.

Foto: istimewa
Gerak Muhammadiyah di Mesir

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Umair Fahmidin, Lc., Dipl, Ketua Umum PCIM Mesir 2020-2022, Mahasiswa S2 Tafsir, Universitas Al-Azhar, Kairo.

Umar bin Khattab adalah salah satu sahabat nabi yang dikenal ahli gulat. Namun sepandai-pandainya Umar menggunakan kekuatannya untuk membanting tubuh lawan, ia masih kalah cerdik dalam berstrategi dengan Khalid ibn Walid. Hingga dalam satu riwayat disebutkan, kalau Khalid pernah mematahkan kaki Umar saat bergulat di masa kecil [ Ibnu Asakir, Tarikh Dimasq [8/22 ]

Kemampuan bergulat juga digunakan sahabat Samurah bin Jundub untuk “bernegosiasi” dengan Rasulullah SAW agar diizinkan ikut Perang Uhud. Pada waktu itu usianya masih kecil, sehingga awalnya tidak diizinkan. Namun karena kegigihannya meyakinkan Rasulullah SAW dengan kemampuannya itu, akhirnya ia diperkenankan untuk ikut perang Uhud. [ At-Thobari, Tarikh Thobari 2/61 ]

Di abad modern ini ada seorang Muslim yang bisa berdakwah dengan kemampuan gulatnya, yakni Khabib Nurmagomedov, petarung MMA asal Rusia. Ia menunjukkan indahnya akhlak seorang Muslim dari arena gulat. 

Sekalipun orang Arab terkenal dengan kemampuan bela dirinya, namun selama tinggal di Mesir saya belum pernah menyaksikan rakyat sipil berlatih bela diri asli Arab. Apakah ada beladiri Arab? Mungkin ada, namun saya belum mengetahuinya. Sejauh yang saya tahu, hampir semua bela diri yang dipelajari masyarakat sipil adalah bela diri impor alias dari negara lain, dari Jepang, China, termasuk Indonesia yang diwakili Tapak Suci dan Talago Biru. 

Tapak Suci Mesir mulai dirintis tahun 2003. Kehadirannya kini dirasakan oleh masyarakat Mesir. Hampir 99 % murid Tapak Suci adalah orang asli Mesir. "Jumlah keseluruhan siswa Tapak Suci Mesir ada sekitar 1500 an yang tersebar di 7 provinsi Mesir," terang bang Roni, Ketua Tapak Suci Putera Muhammadiyah Mesir. 

Perkembangan Muhammadiyah melalui seni budaya di Mesir sangat baik. Internasionalisasi Muhammadiyah yang digagas sebagai ujung tombak dakwah di abad ke-2 Muhammadiyah ini, ternyata dapat melalui Tapak Suci. Selain tentu saja melalui pendidikan sebagaimana khittahnya. 

Tiga ratus siswa pencak silat dari perguruan Tapak Suci dan Telago Biru memenuhi Cairo Internasional Stadium (17/9). Seragam berwarna merah dengan garis kuning yang menjadi ciri khas Tapak Suci membuat arena stadion seakan ter-Muhammadiyah-kan. Siapa saja yang melihat akan terkesan. 

Kegiatan Festival Pencak Silat ini bertujuan untuk mengenalkan budaya Tanah Air pada rakyat Masir dan prosesi pelantikan sabuk bagi para siswa perguruan Tapak Suci dan Telago Biru yang baru saja dinyatakan lulus ujian kenaikan tingkat. 

Kemeriahan acara ini melibatkan 138 kader Tapak Suci Mesir dan 78 di antaranya mengikuti prosesi pelantikan kenaikan tingkat (sabuk). Turut menyemarakkan suasana, anggota beladiri Aikido, Karate, Pusaka Gayo (Malaysia) yang juga diberi panggung untuk mengenalkan seni beladiri yang mereka pelajari. . 

Festival Pencak Silat ini merupakan acara besar pertama yang diselenggarakan di era new normal. Hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan Asisten Menteri Budaya dan Olahraga Mesir (Dr. Amr Haddad), Dutabesar RI untuk Mesir (DR (H.C) Lutfi Rauf), Atdikbud KBRI Kairo (Prof. Bambang Suryadi, Ph.D.), Ketua Dewan Pengembangan Pemuda (Dr. Muhammad Mamduh), Federasi Pencak Silat Internasional Mesir (Ahmad Safwat), Kepala Otoritas Stadion Kairo (Mayor Jenderal Ali Darwish), dan para jajaran staff KBRI yang lain. 

Melihat antusiasme para siswa Tapak Suci Mesir dan penonton malam itu, saya yakin Internasionalisasi Muhammadiyah bisa melalui diplomasi Tapak Suci. Motto Tapak Suci yang berbunyi "Dengan Iman dan Akhlak saya menjadi kuat, tanpa Iman dan Akhlak saya menjadi lemah" siap menyongsong Internasionalisasi Muhammadiyah di abad ke-2 melalui seni dan budaya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA