Friday, 16 Rabiul Awwal 1443 / 22 October 2021

Friday, 16 Rabiul Awwal 1443 / 22 October 2021

Ekspor Mandek, Pengusaha Sarang Burung Walet Mengadu ke KSP

Jumat 24 Sep 2021 08:11 WIB

Rep: Dessy Suciati Saputri/ Red: Fuji Pratiwi

Petani memperlihatkan sarang burung walet (ilustrasi). Ekspor ke China terhambat, pengusaha sarang burung walet mengadukan nasib mereka ke KSP.

Petani memperlihatkan sarang burung walet (ilustrasi). Ekspor ke China terhambat, pengusaha sarang burung walet mengadukan nasib mereka ke KSP.

Foto: Antara/Syifa Yulinnas
Pemerintah harus membuat terobosan kunci untuk menghilangkan hambatan ekspor.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Perwakilan pengusaha lokal eksportir sarang burung walet (SBW) mengadukan nasib mereka ke Kantor Staf Presiden (KSP), terkait masih terhambatnya ekspor sarang burung walet ke China.

Saat bertemu Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko dan Tenaga Ahli Utama Kedeputian III KSP Agung Krisdianto, perwakilan pengusaha dari Sumatera Utara, Kalimantan, Jawa Timur, dan Jabodetabek tersebut mengungkapkan, ekspor sarang burung walet masih terkatung-katung akibat masalah regulasi internal dan eksternal di China.

Perwakilan eksportir sarang burung walet asal Jawa Timur, Lusiyanto Handoko mengatakan, semua persyaratan harus otoritas China yang mengaudit mulai dari hulu ke hilir. "Mereka juga yang menetapkan kuota. Saya sudah minta tambahan kuota sejak tiga tahun lalu, sampai sekarang juga belum ada hasil," kata Lusiyanto dikutip dari siaran resmi KSP.

China merupakan konsumen terbesar sarang burung walet secara global. Ekspor sarang burung walet Indonesia ke China sepanjang 2020 mencapai 413,6 juta dolar AS. Pada April 2021, Indonesia mengumumkan China akan mengimpor sarang burung walet asal Indonesia senilai 1,13 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 16 triliun.

Sementara, yang mendominasi ekspor sarang burung walet hanya 23 perusahaan yang terdaftar di General Administration Customs of China (GACC). Sedangkan 20 perusahaan lainnya belum memiliki legalitas resmi sebagai eksportir terdaftar, padahal sudah mendaftar sejak 2018 dan sudah diaudit oleh GACC.

Baca juga : AHY Harap Ada Pendekatan Khusus Atasi Konflik di Papua

Handoko menilai, perlu ada campur tangan KSP untuk menfasilitasi proses negosiasi dengan pihak GACC. Hal itu agar pelaku ekspor sarang burung walet mendapatkan sertifikasi sebagai eksportir terdaftar di negeri tirai bambu tersebut.

Menurutnya, di tengah sulitnya perekonomian akibat pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, pemerintah harus membuat terobosan kunci untuk menghilangkan hambatan ekspor. "Agar potensi devisa yang sangat besar dari ekspor sarang burung walet bisa ditingkatkan," kata Handoko.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA