Sunday, 18 Rabiul Awwal 1443 / 24 October 2021

Sunday, 18 Rabiul Awwal 1443 / 24 October 2021

Warga Somalia Kembali ke Bioskop Setelah 30 Tahun

Jumat 24 Sep 2021 07:56 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Dwi Murdaningsih

Film perdana yang dinikmati warga Somalia adalah kisah horor Hoos.

REPUBLIKA.CO.ID, MOGADISHU -- Puluhan warga Somalia berpose untuk swafoto dan mengobrol dengan penuh semangat di deretan kursi merah mewah saat menunggu dimulainya pemutaran film. Momen ini menjadi spesial karena yang pertama di negara itu dalam tiga dekade.

Kaif Jama yang berusia 24 tahun salah satu yang berada di kerumunan National Theatre. Dia adalah penulis dan bintang dari kedua film di yang diputarkan pertama kali di Somalia.

Film perdana yang dinikmati warga Somalia adalah kisah horor Hoos, menceritakan tentang seorang perempuan lajang yang pindah ke rumah kosong. Kemudian film bukan komedi romantis berjudul Date from Hell.

"Ini berarti bagi semua orang termasuk saya. Ini untuk setiap orang Somalia yang ingin membuat film," kata Jama yang mengenakan pakaian tradisional Somalia bergaris perak, kuning, dan hijau.

Jama meninggalkan Somalia ketika berusia enam tahun dan pindah antara Kenya dan Uganda sebelum menetap di Kairo pada usia 19 tahun. Sejak itu, dia telah membuat 60 film pendek dan sandiwara dengan pembuat film Somalia Ibrahim CM.

Warga Somalia telah menghabiskan bertahun-tahun menonton film India dan Arab di televisi. "Namun, jika film kita sendiri ditayangkan di bioskop dan TV, maka setiap orang dan anak Somalia akan dibentuk dan dipengaruhi oleh budaya mereka sendiri," ujarnya.

National Theatre merupakan hadiah dari Presiden Cina Mao Zedong yang dibuka pada 1967. Tempat ini menjadi rumah penting bagi tradisi mendongeng yang kaya di Somalia, menjadi tuan rumah drama, ekstravaganza musik, dan pada 1980-an penyelenggara festival film pan-Afrika.

Setelah penggulingan Presiden Siad Barre pada 1991, panglima perang berbasis suku saling meledakkan dengan senjata anti-pesawat dan memperebutkan teater yang digunakan sebagai pangkalan. Bangunan itu dihantam berkali-kali sehingga atapnya runtuh ke dalam konflik.

Milisi Islam yang menguasai pada 2006 dan mengambil alih gedung itu. Mereka melarang segala bentuk hiburan publik dari konser hingga pertandingan sepak bola yang dianggap berdosa.

Pasukan penjaga perdamaian Uni Afrika merebut kembali kendali ibu kota pada 2011 dan pemerintah Somalia baru yang didukung Barat membuka kembali tempat itu pada tahun berikutnya. Namun, hanya tiga minggu setelah itu, seorang pembom bunuh diri dari kelompok milisi al Shabaab menyerang dalam sebuah upacara, menewaskan enam orang. Gedung tersebut dibuka kembali pada 2020.

Warga Mogadishu Hassan Abdulahi Mohamed ingat menghabiskan setengah shilling Somalia untuk tiket bioskop dan satu shilling untuk makanan ringan di teater pada 1960-an. "Terakhir kali saya menonton film di bioskop, itu tahun 1991," katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA