Saturday, 17 Rabiul Awwal 1443 / 23 October 2021

Saturday, 17 Rabiul Awwal 1443 / 23 October 2021

ESDM Janjikan 10 Tahun Lagi Porsi EBT Capai 52 Persen

Jumat 24 Sep 2021 07:38 WIB

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Dwi Murdaningsih

Energi terbarukan/ilustrasi.

Energi terbarukan/ilustrasi.

Foto: abc
Saat ini, PLTU masih mendominasi pembangkit listrik.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pembangkit listrik berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT) akan terus mengalami peningkatan dalam kurun waktu sepuluh tahun mendatang seiring rencana Pemerintah melakukan penambahan kapasitas pembangkit listrik sekitar 40.000 Mega Watt (MW). Penambahan ini sebagai bagian dari antisipasi atas meningkatnya demand (permintaan) sesuai hasil prognosis Kementerian ESDM.

"Kita pastikan dari tambahan 40.000 MW selama 10 tahun ke depan, hampir 52 persen berbasis EBT berbagai jenis," kata Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Rida Mulyana, Jumat (24/9).

Rida memaparkan, kapasitas pembangkit listrik hingga bulan Juni 2021 sebesar 73.341 MW. Pembangkit berbasis fosil masih berperan penting sebagai penopang produksi listrik, yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).

"Secara generation cost, PLTU memang masih murah. Jadi biar tarif listriknya tidak mahal ke rakyat sehingga meningkatkan daya beli masyarakat dan membuat industri makin kompetitif," ungkap Rida.

Pada komposisi tersebut, PLTU mendominisasi sebesar yaitu 47 persen atau sekitar 34.856 MW, disusul PLTG/GU/MG 20.938 MW (28 persen), PLTA/M/MH 6.255 MW (9 persen), PLTD 4.932 MW (7 persen), PLTP 2.174 MW (3 persen), PLTU M/G 2.060 MW (3 persen), dan PLT EBT lainnya 2.215 MW (3 persen). "Betul, (komposisi) ini tidak bisa dipertahankan terus menurus. Meskipun kita punya banyak batubara. Lambat laun akan habis," pesan Rida.

Sementara dari sisi produksi listrik, realisasi volume PLTU hingga periode yang sama jauh besar sebesar, yaitu 65,30 persen atau dari membutuhkan batubara sebesar 32,76 juta ton. Sisanya dipasok dari gas 17 persen (184.079 BBTU), Air 7,05 persen, Panas Bumi 5,61 persen, BBM 3,04 persen, BBN 0,31 persen, Biomassa 0,18 persen, Surya 0,04 persen dan EBT lainnya 0,14 persen.

Baca Juga

"Kita harus keluar dari sini untuk menghasilkan yang lebih hijau, bersih, suistain, dan ini jadi tanggung jawab bersama," kata Rida.

Dari segi infrastruktur pendukung lainnya, penyaluran tenaga listrik nasional hingga pada Juni 2021 menunjukkan adanya pembangunan transmisi sepanjang 62.440 kilometer sirkuit (kms), gardu induk 151.698 sebesar Mega Volt Ampere (MVA), jaringan distribusi sebesar 1.013.217 kms, dan gardu distribusi sebesar 62.345.606 MVA.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA