Tuesday, 29 Zulqaidah 1443 / 28 June 2022

Akademisi AS Sebut Israel Terapkan Apartheid

Jumat 24 Sep 2021 06:47 WIB

Rep: Meiliza Laveda/ Red: Ani Nursalikah

Akademisi AS Sebut Israel Terapkan Apartheid. Pasukan keamanan Israel memeriksa identitas warga Palestina saat mereka mengantre dalam perjalanan kembali ke kota Jenin, Tepi Barat, melalui celah di pagar keamanan, dekat desa Israel Muqabla, 06 September 2021. Sejumlah tahanan keamanan melarikan diri dari Penjara Gilboa, kata Kantor Perdana Menteri Israel pada 06 September.

Akademisi AS Sebut Israel Terapkan Apartheid. Pasukan keamanan Israel memeriksa identitas warga Palestina saat mereka mengantre dalam perjalanan kembali ke kota Jenin, Tepi Barat, melalui celah di pagar keamanan, dekat desa Israel Muqabla, 06 September 2021. Sejumlah tahanan keamanan melarikan diri dari Penjara Gilboa, kata Kantor Perdana Menteri Israel pada 06 September.

Foto: EPA-EFE/ATEF SAFADI
Kelompok HAM menyimpulkan Israel mempraktikkan apartheid.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Survei terbaru yang dilakukan Middle East Scholar Barometer (MESB) mengungkapkan hampir dua pertiga sarjana dan akademisi Amerika yang karyanya berfokus pada Timur Tengah berpikir permasalahan Israel dan Palestina mirip dengan apartheid. Proyek ini merupakan inisiatif bersama dari University of Maryland Critical Issues Poll dan Proyek Ilmu Politik Timur Tengah di George Washington University.

Di antara akademisi yang disurvei adalah anggota Bagian Politik Timur Tengah dan Afrika Utara Asosiasi Ilmu Politik Amerika dan Asosiasi Studi Timur Tengah. Jumlah akademisi yang ikut sebesar 1.290 orang.

Baca Juga

Sebanyak 65 persen memilih menggambarkan situasi yang terjadi di Israel dan Palestina mirip dengan apartheid. Hanya satu persen yang mengatakan itu adalah pendudukan sementara.

Sementara itu, saat ditanyai kondisi jika 10 tahun tidak ada solusi untuk dua negara itu, 80 persen mengatakan kenyataannya akan mirip dengan apartheid. Namun, survei tidak menjelaskan alasan 15 persen responden berpikir Israel tidak mempraktikkan apartheid.

Kelompok hak asasi manusia terkemuka Human Rights Watch dan B'Tselem telah menyimpulkan Israel memenuhi ambang batas untuk ditetapkan sebagai negara yang mempraktikkan apartheid dan kejahatan terhadap kemanusiaan. MESB melakukan putaran pertama survei pada Februari, sebelum penggusuran paksa di Sheikh Jarrah dan serangan terbaru Israel di Gaza.

Dalam jajak pendapat itu, 59 persen cendekiawan menggambarkan Israel sebagai kenyataan satu negara yang mirip dengan apartheid. Sementara 52 persen mengatakan solusi dua negara tidak mungkin lagi ada. Dalam waktu beberapa bulan, enam persen lagi menyimpulkan Israel mempraktikkan apartheid.

“Apa yang menjelaskan peningkatan yang begitu signifikan dalam waktu kurang dari tujuh bulan?” tanya Penulis Survei daru University of Maryland Shibley Telhami dan dari George Washington University Marc Lynch, dilansir Middle East Monitor, Jumat (24/9).

Para cendekiawan juga ditanyai pandangan mereka tentang dampak dari apa yang disebut Kesepakatan Abraham yang ditandatangani pada 2020 antara Israel dan UEA, Bahrain, Sudan, dan Maroko yang menormalkan hubungan dengan Israel.

Hampir tiga perempat, 72 persen mengatakan dampaknya negatif dan hanya enam persen yang mengatakan kesepakatan itu akan berdampak positif. Secara keseluruhan, 70 persen menilai kesepakatan tersebut akan berdampak negatif pada kemajuan demokrasi dan hak asasi manusia. Sementara itu, kurang dari lima persen yang menyebut itu akan memiliki dampak positif.

https://www.middleeastmonitor.com/20210923-israel-practices-apartheid-say-us-academics/

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA