Sunday, 18 Rabiul Awwal 1443 / 24 October 2021

Sunday, 18 Rabiul Awwal 1443 / 24 October 2021

Kasus Covid-19 Turun Drastis, Tapi PPKM Masih Diperpanjang

Rabu 22 Sep 2021 17:23 WIB

Red: Andri Saubani

Pengunjung memindai kode batang (QR Code) melalui aplikasi PeduliLindungi sebelum memasuki bioskop di salah Satu Mall Kota Palembang, Sumatra Selatan, Selasa (21/9/2021). Penerapan aplikasi PeduliLindungi sudah mulai dilakukan sejumlah gerai, supermarket, tempat makan, dan bioskop di daerah itu untuk mendukung pencegahan penyebaran COVID-19 di pusat perbelanjaan.

Pengunjung memindai kode batang (QR Code) melalui aplikasi PeduliLindungi sebelum memasuki bioskop di salah Satu Mall Kota Palembang, Sumatra Selatan, Selasa (21/9/2021). Penerapan aplikasi PeduliLindungi sudah mulai dilakukan sejumlah gerai, supermarket, tempat makan, dan bioskop di daerah itu untuk mendukung pencegahan penyebaran COVID-19 di pusat perbelanjaan.

Foto: Antara/Feny Selly
Pemerintah mengingatkan masyarakat untuk tidak lengah dan tetap menjaga prokes.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Dessy Suciati Saputri, Fauziah Mursid, Intan Pratiwi, Rahayu Subekti

Satgas Penanganan Covid-19 menilai, kondisi pandemi Covid-19 di Indonesia saat ini sudah terkendali. Angka penularan atau positivity rate mingguan Covid-19 kini menyentuh titik terendah sebesar 2,48 persen selama pandemi.

Baca Juga

“Dengan segala perbaikan dari berbagai indikator penanganan Covid-19 di Indonesia dapat dikatakan bahwa saat ini pandemi Covid-19 terkendali,” kata Juru Bicara Pemerintah Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito saat konferensi pers, Selasa (21/9) sore.

Satgas mencatat pada pekan ini kasus Covid-19 di Indonesia kembali mengalami penurunan yang sangat drastis. Per 20 September, kasus positif harian telah menyentuh angka 1.000 kasus, dengan kasus aktif yang telah menyentuh 1 persen selama lima hari berturut-turut.

“Ini adalah pencapaian yang sangat baik dan buah kerja keras kita semua mengingat kita pernah mencapai 56 ribu kasus, dengan kasus aktif hingga 18 persen pada bulan Juli lalu,” ujarnya.

Wiku mengatakan, menurunnya kasus positif ini juga diikuti dengan terus meningkatnya persentase kesembuhan. Hingga saat ini kesembuhan di Indonesia telah mencapai lebih dari 95 persen serta angka kesembuhan harian yang terus mengalami peningkatan beberapa kali lipat dari kasus positif tiap harinya.

“Bahkan pada 13 September, kasus kesembuhan kita bertambah hampir lima kali lipat dari kasus positif harian. Di mana kasus positif bertambah 2.577 kasus, sedangkan kesembuhan bertambah 12.474 kasus,” jelas Wiku.

Meski kasus Covid-19 di Indonesia menurun, lanjut Wiku, pemerintah terus berkomitmen meningkatkan jumlah testing agar semakin banyak kasus yang terdeteksi. Pada minggu terakhir, jumlah orang yang diperiksa mencapai satu juta orang. Angka ini terus mengalami peningkatan dari yang sebelumnya berkisar 600-900 ribu orang.

 

photo
Grafik Penurunan Kasus Terkonfirmasi Positif Covid-19 - (covid19.go.id)
 



Namun, Wiku menegaskan agar masyarakat memahami bahwa adanya perbaikan pada kasus aktif tidak boleh membuat lengah. "Berkaca pada beberapa negara lain yang sempat mengalami kasus aktif bahkan di bawah 1 persen, ternyata tetap mengalami lonjakan kasus baru-baru ini," ungkap Wiku.

Contohnya, Australia yang kasus aktifnya sempat mencapai 0,26 persen pada 24 Mei 2021 kembali mengalami peningkatan hingga 30 ribu kasus aktif per 9 September 2021. Selandia Baru juga yang kasus aktifnya pernah 0,6 persen per 1 Juni 2021 kembali mengalami kenaikan kasus pada awal September yaitu mencapai 750 kasus aktif.

"Hal ini menandakan bahwa perbaikan kasus Covid-19 harus terus dipertahankan dengan disiplin menjalankan prokes karena tidak ada jaminan bahwa keberhasilan penanganan Covid-19 saat ini akan bertahan seterusnya jika tidak diimbangi dengan upaya perbaikan yang konsisten dan terus menerus," jelas Wiku.

Berkaca pada Juli lalu di mana tingkat infeksi Covid-19 sangat tinggi, Wiku menyebut, masuknya varian Delta dari India bukan satu-satunya penyebab terjadinya gelombang kedua. Namun, juga akibat kepatuhan protokol kesehatan yang menurun.

Saat itu, kata Wiku terjadi interaksi tinggi antarmanusia dibarengi dengan mulai longgarnya kepatuhan terhadap protokol kesehatan. Periode libur panjang dan banyaknya tradisi kegiatan sosial-ekonomi masyarakat ikut menjadi faktor pemicu semakin cepatnya penularan.

"Terjadi gelombang kedua di Indonesia tidak semata-mata terjadi karena kekuatan infeksius dari Delta, namun juga akibat kepatuhan protokol kesehatan yang menurun," ujar Wiku.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA