Thursday, 15 Rabiul Awwal 1443 / 21 October 2021

Thursday, 15 Rabiul Awwal 1443 / 21 October 2021

Tidak Rasakan Efek Samping, Vaksinnya tak Bekerja?

Kamis 23 Sep 2021 06:25 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Reiny Dwinanda

Vaksinasi Covid-19. Sebagian orang mengira, efek samping yang dirasakan merupakan pertanda vaksin Covid-19 bekerja dengan baik.

Vaksinasi Covid-19. Sebagian orang mengira, efek samping yang dirasakan merupakan pertanda vaksin Covid-19 bekerja dengan baik.

Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Orang mengira munculnya efek samping pertanda vaksin Covid-19 bekerja.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Banyak orang mengira, vaksin Covid-19 berarti manjur ketika mereka merasakan efek samping setelah divaksinasi. Pandangan itu mungkin membuat orang yang tak merasakan apapun menjadi bertanya-tanya tentang keberhasilan vaksinasinya.

Menurut surat penelitian baru dari para ilmuwan di Johns Hopkins Medicine, ini ternyata bukan suatu kekhawatiran. Penelitian Johns Hopkins mengonfirmasi bahwa vaksin Pfizer-BioNTech dan Moderna sangat efektif dalam menghasilkan respons antibodi yang kuat, terlepas dari apakah seseorang mengalami efek samping atau tidak.

"Tidak diketahui apakah kurangnya gejala setelah vaksinasi atau infeksi SARS-CoV-2 sebelumnya akan menunjukkan respons antibodi yang kurang memadai pada orang yang menerima vaksin Pfizer-BioNTech atau Moderna, jadi kami mempelajari sekelompok staf yang tersedia dari rumah sakit kami untuk melihat apakah ada keterkaitan," ujar penulis senior surat itu Dr. Aaron Milstone, ahli epidemiologi rumah sakit asosiasi di Rumah Sakit Johns Hopkins.

Dalam studi tersebut, 99,9 persen dari semua peserta berhasil mengembangkan antibodi yang dirancang untuk dipromosikan oleh vaksin. Surat penelitian ini muncul di jurnal JAMA Internal Medicine Trusted Source, dikutip dari Medical News Today, Rabu (22/9).

Cara kerja vaksin mRNA
Permukaan virus SARS-CoV-2 ditutupi paku yang menempel pada sel sehat, memungkinkan virus masuk dan menginfeksi. Kedua vaksin yang diuji, yakni vaksin Pfizer-BioNTech dan Moderna, mengirimkan ke tubuh satu set instruksi, atau mRNA, untuk membuat protein lonjakan.

Sebagai tanggapan, sistem kekebalan tubuh mulai memproduksi antibodi imunoglobulin G (IgG) sebagai pertahanan terhadap protein lonjakan. Antibodi IgG menghancurkan dan menghilangkan protein lonjakan dari tubuh.

Jika sistem kekebalan menghadapi SARS-CoV-2, lonjakan virus memicu pelepasan antibodi ini, yang menetralisir virus atau membatasi keparahan penyakit apa pun yang ditimbulkannya. Perlu dicatat bahwa tidak ada vaksin COVID-19 yang tersedia yang mengandung SARS-CoV-2 yang hidup atau mati.

Baca Juga

Baca juga : Hasil Uji Klinis: Ivermectin tak Berguna Tangani Covid

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA