Sunday, 14 Rajab 1444 / 05 February 2023

Rusia Berharap Iran dan IAEA Pulihkan Hubungan

Selasa 21 Sep 2021 18:45 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Christiyaningsih

Kantor Badan Energi Atom Internasional (IAEA) di Wina, Austria. (ilustrasi)

Kantor Badan Energi Atom Internasional (IAEA) di Wina, Austria. (ilustrasi)

Foto: EPA/Roland Schlager
Pertemuan perwakilan badan atom dunia dan kepala energi atom Iran disambut Rusia

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA - Perwakilan Tetap Rusia untuk Organisasi Internasional Mikhail Ulyanov menyambut baik pertemuan yang diadakan antara Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi dan Kepala Energi Atom Iran (AEOI) Mohammad Eslami. Dia berharap keduanya bisa memulihkan hubungan terkait komitmen nuklir.

"Kami dengan tulus berharap #IAEA dan #Iran untuk memulihkan dan mengembangkan hubungan bermanfaat. Semua masalah yang belum terselesaikan dapat dan harus diselesaikan melalui kerja sama berdasarkan prosedur standar," kata Ulyanov pada Selasa (21/9) dikutip laman Mehr News Agency.

Baca Juga

Pernyataan yang dilontarkan di Twitter terverifikasinya muncul ketika Grossi juga mencicit di Twitter soal sambutannya pada Iran. "Senang menyambut Mohammad Eslami, Wakil Presiden dan Kepala Organisasi Energi Atom #Iran, hari ini selama #IAEAGC (IAEA General Conference) untuk membangun pernyataan bersama kami yang dicapai baru-baru ini di #Tehran. Kami sekarang memiliki pekerjaan yang harus dilakukan bersama," cicitnya.

IAEA General Conference ke 65 berlangsung dengan partisipasi perwakilan dari 171 negara. Dari Iran, kepala Organisasi Energi Atom Iran (AEOI) Mohammad Eslami dan utusan IAEA Kazem Gharibabadi menghadiri acara tersebut. Sementara beberapa negara diwakili secara virtual.

 

Bulan lalu, IAEA membuat laporan penilaian tajam terhadap Iran dalam sebuah negara-negara anggota nuklir dunia. IAEA menyebut sejak Februari pemantauan pihaknya telah dirusak sebagai akibat dari keputusan Iran menghentikan pelaksanaan komitmen yang berhubungan dengan nuklir.

Laporan itu mengatakan dalam kondisi ini kapasitas teknis IAEA untuk memantau program nuklir Iran telah jauh menurun secara signifikan. "Keyakinan bahwa Iran dapat mempertahankan kontinuitas pengetahuan menurun dari waktu ke waktu," tulis laporan itu.

 

IAEA mencapai kesepakatan dengan Iran dalam mencegah krisis yang membayangi prospek pemulihan kesepakatan nukir Iran 2015. Keduanya sepakat untuk memecahkan masalah paling mendesak di antara mereka dan melakukan servis peralatan pemantauan agar tetap berjalan. Hal itu disepakati saat Grossi ke Iran melakukan pembicaraan dengan Eslami.

Pembicaraan tidak langsung antara Amerika Serikat dan Iran tentang kesepakatan nuklir 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) telah dihentikan sejak Juni. Washington dan sekutu Eropa telah mendesak pemerintahan Presiden Ebrahim Raisi untuk kembali menghidupkan perundingan JCPOA. Di bawah kesepakatan JCPOA antara Iran dan negara-negara besar, Teheran menyetujui pembatasan kegiatan nuklir dengan imbalan pencabutan sanksi.

Pada 2018 mantan presiden Donald Trump menarik AS keluar dari JCPOA dan kembali menerapkan sanksi ekonomi terhadap Iran. Pada 2019, Iran menanggapi keputusan AS dengan melanggar batasan inti kesepakatan JCPOA seperti memperkaya uranium ke kemurnian yang lebih tinggi sehingga lebih dekat untuk digunakan dalam senjata nuklir.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA