Monday, 12 Rabiul Awwal 1443 / 18 October 2021

Monday, 12 Rabiul Awwal 1443 / 18 October 2021

Subholding Buat Pertamina Fokus Garap Bisnis

Selasa 21 Sep 2021 14:00 WIB

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Fuji Pratiwi

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir. Erick menyebut, pembentukan subholding membuat Pertamina lebih fokus pada bisnisnya.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir. Erick menyebut, pembentukan subholding membuat Pertamina lebih fokus pada bisnisnya.

Foto: ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA
Sub holding menjadi fondasi kuat untuk Pertamina menuju valuasi 100 dolar AS.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Pertamina (Persero) berhasil meresmikan enam subholding pada pekan lalu. Menteri BUMN Erick Thohir menyebut peresmian subholding ini mendorong Pertamina lebih fokus dalam menggarap bisnis masing-masing subholding. 

"Kalau kita lihat sendiri performanya luar biasa dengan kita memfokuskan masing-masing subholding dan menjadikan ekspertis yang terbaik," ungkap Erick saat  peresmian pabrik industri baja PT Krakatau Steel di Kota Cilegon, Banten, Selasa (21/9). 

Erick menyampaikan, Pertamina baru saja berhasil menemukan potensi temuan baru gas dan minyak sebesar 204 juta barel di sektor hulu. Erick menilai penemuan ini merupakan kabar gembira mengingat produksi migas nasional yang terus mengalami penurunan.

Erick memaparkan, Pertamina untuk sektor hulu telah mendapatkan keuntungan sebesar 1 miliar dolar AS pada kuartal II 2021. Pun dengan sektor kilang dan pertrokimia yang selama ini menjadi, kini sudah membukukan keuntungan sebesar 280 juta dolar AS.

Erick memastikan subholding menjadi fondasi yang kuat untuk Pertamina menuju valuasi 100 dolar AS. Erick meyakini hal ini akan terealisasi mengingat posisi Pertamina yang saat ini sudah masuk 500 perusahaan terbesar dunia.

"Jadi tidak ada istilah turun tapi harus terus naik dan ini kita penting fondasinya kita jaga supaya di 2024 kita bisa punya penjualan 92 miliar dolar AS dan keuntungan di 8 miliar dolar AS sehingga valuasi bisa 100 miliar dolar AS," ucap Erick. 

 

Baca Juga

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA