Senin 20 Sep 2021 06:22 WIB

Sebanyak 21 Bank Dukung Restrukturisasi Keuangan Waskita

Proses restrukturisasi merupakan bagian dari transformasi bisnis Waskita

Rep: m nursyamsi/ Red: Hiru Muhammad
Pekerja menyelesaikan pembangunan infrastruktur jalan tol Medan - Bandara Kualanamu - Tebing Tinggi di Medan, Sumatera Utara, Kamis (3/5). Waskita Karya meraup keuntungan setelah melakukan divestasi saham untuk konsesi ruas Jalan Tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi melalui anak usahanya PT Waskita Toll Road.
Foto: Antara/Septianda Perdana
Pekerja menyelesaikan pembangunan infrastruktur jalan tol Medan - Bandara Kualanamu - Tebing Tinggi di Medan, Sumatera Utara, Kamis (3/5). Waskita Karya meraup keuntungan setelah melakukan divestasi saham untuk konsesi ruas Jalan Tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi melalui anak usahanya PT Waskita Toll Road.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--PT Waskita Karya (Persero) berhasil bernegosiasi dengan 21 bank dan mendapatkan dukungan penuh pada proses restrukturisasi utang perseroan induk dengan total fasilitas kredit sebesar Rp 29,2 triliun atau 100 persen dari total utang yang direstrukturisasi.

Bank-bank yang telah mendukung penuh proses restrukturisasi utang Waskita meliputi Bank Negara Indonesia, Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, Bank BTPN, Bank Syariah Indonesia, Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten, Bank DKI, Bank Panin, Bank Permata, Bank KEB Hana, Bank Shinhan, Bank CTBC Indonesia, Maybank, BNP Paribas, Bank SBI Indonesia, Bank Resona Perdania, Bank UOB, Bank of China, Bank QNB, Bank OCBC NISP, dan Bank CCB Indonesia.

Direktur Utama Waskita Destiawan Soewardjono mengatakan kesepakatan ini melengkapi proses penandatanganan perjanjian restrukturisasi perseroan induk yang telah dilaksanakan pada 25 Agustus 2021. 

Pada kesempatan tersebut, ucap Destiawan, Waskita telah mendapatkan dukungan dan kesepakatan melalui proses penandatanganan Master Restructuring Agreement (MRA) dari tujuh perbankan. 

Selanjutnya pada 15 September 2021, Waskita, kembali mendapatkan dukungan dari 14 bank melalui penandatanganan perjanjian aksesi restrukturisasi perseroan induk.

"Saat ini 21 bank-bank tersebut mendukung penuh proses restrukturisasi utang  perseroan induk dengan memberikan perpanjangan masa kredit hingga lima tahun ke depan dan tingkat suku bunga yang lebih kompetitif," ujar Destiawan dalam keterangan tertulis di Jakarta, Ahad (19/9).

Destiawan mengatakan proses restrukturisasi merupakan bagian dari transformasi bisnis Waskita yang tertuang dalam delapan stream penyehatan keuangan Waskita. 

Menurut Destiawan, transformasi ini merupakan komitmen perseroan untuk menjamin going concern perseroan dan mengelola fondasi keuangan yang kuat serta impelementasi prinsip tata kelola yang baik pada seluruh elemen perseroan. "Perseroan sangat mengapresiasi penuh dukungan perbankan yang telah memahami proses restrukturisasi ini akan memberikan dampak positif terhadap kinerja perseroan dan akan meningkatkan kepercayaan dan optimisme seluruh pihak kepada perseroan," ucap Destiawan. 

Waskita, lanjut Destiawan, menargetkan pertumbuhan kinerja positif dengan rata-rata pertumbuhan CAGR hingga 25 persen pada tiga hingga lima tahun ke depan.  Dampak positif implementasian delapan stream penyehatan keuangan waskita juga mulai tercermin pada kinerja semester pertama tahun ini dengan mencatatakan laba bersih usaha sebesar Rp 33,4 miliar atau meningkat sebesar 102,5 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Destiawan menjelaskan program delapan stream penyehatan keuangan Waskita terdiri atas proses restrukturisasi perseroan induk dan anak usaha, penjaminan pemerintah, Penyertaan Modal Negara (PMN), rights issue, divestasi aset jalan tol, penyelesaian konstruksi, transformasi bisnis, serta implementasi GCG dan manajemen risiko.

"Perseroan juga memperoleh dukungan penuh dari pemerintah untuk melakukan percepatan pelaksanaan strategi-strategi penyehatan keuangan Waskita. Dengan implementasi 8 stream penyehatan keuangan, Waskita dapat terus berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi nasional, terutama dalam pengembangan infrastruktur di Indonesia," kata Destiawan.

 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement