Sabtu 18 Sep 2021 20:47 WIB

Ekonomi Bambu Bantu Petani Zimbabwe Cari Nafkah

Para ahli mengatakan budidaya bambu membantu membalikkan efek perubahan iklim

Para ahli mengatakan budidaya bambu membantu membalikkan efek perubahan iklim.
Para ahli mengatakan budidaya bambu membantu membalikkan efek perubahan iklim.

REPUBLIKA.CO.ID, HEADLANDS - Pernah dianggap sebagai parasit yang memakan hutan, bambu kini menjadi sumber penghidupan utama bagi para petani di Zimbabwe. Di Provinsi Manicaland, petani seperti Hapias Shwede, 52, telah beralih menanam bambu, yang digunakan untuk membangun rumah, furnitur, pulp, arang, sekaligus menangani masalah perubahan iklim.

Bertepatan dengan Hari Bambu Sedunia yang diperingati pada Jumat, seorang petani wanita Mavis Sithole, 56, dari Gunung Selinda mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa dia bersama dengan wanita lain telah menghasilkan ratusan dolar dengan menjual bambu ke produsen furnitur asli.

Baca Juga

“Kami telah berhenti menggunakan tiang dari pohon untuk membangun gubuk kami sekarang. Kami menggunakan bambu yang meski ditebang, cepat tumbuh dibanding pohon lain yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk tumbuh kembali,” ungkap dia.

Di Distrik Chipinge, Manicaland, satu dekade lalu enam wanita berkumpul untuk membentuk Asosiasi Bambu Wanita Gunung Selinda untuk mempromosikan perkebunan bambu dan kewirausahaan.

Menurut Jaringan Internasional Bambu dan Rotan (INBAR), sebuah organisasi antar pemerintah, ekonomi bambu di Zimbabwe telah tumbuh menjadi USD60 miliar dan berubah menjadi penghasil pendapatan yang kredibel bagi masyarakat pedesaan.

Tidak seperti pohon lain, menurut pakar perubahan iklim Happison Chikova, tanaman bambu dikenal tumbuh secara alami dan berkelanjutan, sehingga mengatasi masalah perubahan iklim.

“Rumput bambu menyerap karbon dioksida dan bertindak sebagai reduksi karbon. Rumput berkayu juga dapat digunakan sebagai kayu bakar dan menyelamatkan pohon-pohon asli lainnya untuk digunakan sebagai bahan bakar," ujar dia.

Menurut Program Lingkungan PBB (UNEP), Zimbabwe telah kehilangan rata-rata 327 ribu hektare hutan setiap tahun dari 1990-2010. Dia mengatakan dengan perhatian sekarang beralih ke bambu yang tumbuh cepat, negara dapat memulihkan hutannya yang hilang.

“Begitu mulai tumbuh, bambu tetap berakar di tanah membantu mengamankan tanah. Rerumputan berkayu tidak seperti hutan karena ketika ditebang, bambu tumbuh kembali dengan cepat. Semakin banyak yang dipotong, semakin tumbuh,” kata Chikova.

Catatan peringatan dari para aktivis

Menurut Bio-Innovation Zimbabwe, sebuah organisasi penelitian yang mengkhususkan diri pada spesies tanaman yang kurang dimanfaatkan, bambu yang berasal dari negara Afrika Selatan ini, dengan rumput raksasa yang tetap hijau sepanjang tahun dan batang kayunya yang berlubang, tumbuh kembali dengan cepat setelah ditebang.

“Orang-orang telah jatuh cinta dengan perabotan, kursi dan meja yang saya buat menggunakan bambu dan saya telah mengembangkan bisnis saya ke ketinggian yang memusingkan, menghasilkan lebih dari USD1.500 bulanan menjual furnitur yang terbuat dari bambu,” kata Pritchard Hove, seorang tukang kayu di Harare, kepada Anadolu Agency.

Namun, aktivis hak asasi manusia seperti Elvis Mugari telah menyampaikan peringatan tentang promosi budidaya bambu secara berlebihan.

“Janganlah kita terlalu bersemangat tentang bambu karena jika orang menanam rumput ini dalam jumlah besar dengan berpikir mereka akan menyelamatkan hutan, mereka mungkin tidak menanam tanaman lain untuk memberi makan diri mereka sendiri dan akan kelaparan sekarang,” ungkap dia.

sumber : https://www.aa.com.tr/id/dunia/ekonomi-bambu-bantu-petani-zimbabwe-cari-nafkah/2368054
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement