Monday, 12 Rabiul Awwal 1443 / 18 October 2021

Monday, 12 Rabiul Awwal 1443 / 18 October 2021

Penasehat FDA: Booster Pfizer Dapat Lampu Hijau untuk Lansia

Sabtu 18 Sep 2021 15:06 WIB

Rep: Mabruroh/ Red: Friska Yolandha

Vaksin Pfizer. Sebuah komite penasihat independen untuk Food and Drug Administration (FDA) telah menyetujui dosis booster vaksin Pfizer/BioNTech COVID-19 untuk orang berusia 65 tahun ke atas, serta untuk mereka yang berisiko tinggi terpapar virus seperti petugas kesehatan.

Vaksin Pfizer. Sebuah komite penasihat independen untuk Food and Drug Administration (FDA) telah menyetujui dosis booster vaksin Pfizer/BioNTech COVID-19 untuk orang berusia 65 tahun ke atas, serta untuk mereka yang berisiko tinggi terpapar virus seperti petugas kesehatan.

Foto: ANTARA/Fauzan
Dosis booster direkomendasikan diberikan enam bulan setelah dua dosis utama selesai.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah komite penasihat independen untuk Food and Drug Administration (FDA) telah menyetujui dosis booster vaksin Pfizer/BioNTech COVID-19 untuk orang berusia 65 tahun ke atas, serta untuk mereka yang berisiko tinggi terpapar virus seperti petugas kesehatan. Dosis booster vaksin Pfizer/BioNTech direkomendasikan untuk diberikan setidaknya enam bulan setelah selesainya dua dosis utama.

Jika FDA bergerak maju dengan rekomendasi komite penasihat yang kemungkinan besar akan terjadi, booster akan mulai ditawarkan kepada kedua kelompok tersebut berdasarkan Otorisasi Penggunaan Darurat.

Baca Juga

Komite Penasihat Vaksin dan Produk Biologi Terkait (VRBPAC) menyatakan untuk keamanan dua jenis vaksin tersebut, hanya ada sedikit data terkait efek samping vaksin yang dialami oleh pria muda. Selebihnya tidak ada dan menekankan bahwa manfaat vaksin jauh lebih besar sehingga mengurangi jumlah pasien parah, rawat inap, dan kematian.

"Dosis ketiga kemungkinan besar bermanfaat," kata Ofer Levy, anggota voting VRBPAC dan pakar penyakit menular di Harvard.

"Itu sudah benar untuk immunocompromised. Ini mungkin bermanfaat, menurut pendapat saya, untuk orang tua dan pada akhirnya dapat diindikasikan untuk populasi umum," tambahnya.

Suntikan booster ini awalnya sempat mendapatkan penolakan mengingat sejumlah laki-laki muda mengalami efek samping meningkatkan risiko miokarditis/perikarditis setelah suntikan kedua. Salah satunya adalah direktur Kantor Penelitian dan Peninjauan Vaksin FDA, Marian Gruberp yang mengundurkan diri. Dia menekankan bahwa keputusan untuk menyetujui dosis booster bergantung pada penentuan apakah itu aman, yang melibatkan pertimbangan apakah manfaatnya lebih besar daripada risikonya.

Ahli epidemiologi CDC Sara Oliver menyajikan sintesis data yang menunjukkan bahwa kemanjuran vaksin terhadap infeksi telah menurun dari waktu ke waktu, tetapi perlindungan terhadap rawat inap tetap kuat. 

Demikian pula, para ahli dari Israel mempresentasikan data yang menunjukkan bahwa kemanjuran vaksin terus berkurang dari waktu ke waktu, dengan kelompok lansia melihat perlindungan yang kurang terhadap penyakit parah. Israel menganggap suntikan booster diperlukan pada orang di atas 60 tahun dan memberikan pengurangan lebih dari 10 kali lipat dalam risiko relatif penyakit parah pada kelompok usia tersebut. 

Secara keseluruhan, VRBPAC terpengaruh oleh data dari Israel yang menunjukkan bahwa orang tua akan segera menjadi lebih rentan terhadap penyakit parah, rawat inap, dan kematian dan bahwa dosis booster dapat meningkatkan perlindungan terhadap lansia. Tetapi dengan sedikit data keamanan pada kelompok yang lebih muda, para anggota tidak yakin apakah booster harus ditawarkan juga kepada semua orang yang berusia 16 tahun ke atas saat ini.

Sehingga dalam pertimbangan terakhir, para anggota memberikan lampu hijau booster vaksin hanya kepada mereka yang berusia 65 tahun ke atas serta orang-orang yang berisiko tinggi. Meskipun batas dan definisinya goyah.

Komite merasa perlu untuk memasukkan orang-orang yang berisiko tinggi terkena penyakit parah dari kondisi yang mendasarinya, tetapi siapa yang mungkin memenuhi syarat di bawah persyaratan tersebut belum ditentukan. Komite penasihat untuk Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, Komite Penasihat untuk Praktik Imunisasi, akan bertemu pada 22 September nanti.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA