Sunday, 18 Rabiul Awwal 1443 / 24 October 2021

Sunday, 18 Rabiul Awwal 1443 / 24 October 2021

Menkop Minta Petani Berlahan Sempit Gabung ke Koperasi

Sabtu 18 Sep 2021 10:32 WIB

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Dwi Murdaningsih

Koperasi /ilustrasi

Koperasi /ilustrasi

Foto: Aditya Pradana Putra/Republika
Koperasi menjadi solusi pertanian di struktur ekonomi tanah air di level mikro.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) berkomitmen terus memperkuat sektor produksi, terutama koperasi yang bergerak di sektor pangan, lewat korporatisasi petani dan nelayan. Koperasi pun diminta mengonsolidasikan para petani berlahan sempit untuk bergabung. 

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan, upaya penguatan sektor pangan ini mengingat adanya ancaman krisis pangan penduduk dunia berdasarkan hasil kajian Lembaga Pangan Dunia atau FAO (Food and Agriculture Organization). "Indonesia punya potensi ekonomi di sektor pangan yang sangat besar. Termasuk buah-buahan tropis, holtikultura, produk herbal, hingga rempah-rempahan," ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (18/9).
 
Bahkan, kata dia, berbagai komoditas itu berkualitas ekspor dan bisa menjadi substitusi impor. "Sayangnya masih banyak pula produk pertanian kita seperti beras, kedelai, dan susu  masih impor," ucap dia.
 
Teten mengakui sektor pangan diurus oleh banyak kementerian. Dalam hal ini, Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop) ditugaskan membenahi kelembagaan usahanya, yakni melalui koperasi. Ia menegaskan, koperasi harus berperan sebagai konsolidator dan aggregator sekaligus. Koperasi menjadi solusi pertanian di struktur ekonomi tanah air di level mikro. 
 
"Petani kita banyak yang mengerjakan di lahan sempit ini digabungkan dan dikonsolidasi lewat koperasi, diwujudkan dalam corporate farming. Saat ini kami berkolaborasi dengan banyak kementerian dan BUMN memperkuat apa yang Presiden Jokowi sebut korporatisasi petani," ujarnya.
 
 
Tujuan utamanya yakni membangun kelembagaan ekonomi petani dalam bentuk koperasi pada skala ekonomi yang terhubung dengan lembaga pembiayaan dan market. Pasalnya selama ini, perbankan masih enggan memberikan pembiyaan ke sektor pangan karena dinilai berisiko tinggi. 
 
“Ini bisa menjadi solusi sistem pertanian kepada petani lahan sempit. Kalau petaninya digabung dalam koperasi, pembiayaan jadi mudah. Sehingga ketahanan pangan juga dapat diwujudkan jika para petani dan nelayan bergabung dalam wadah koperasi," kata Teten.
 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA