Friday, 16 Rabiul Awwal 1443 / 22 October 2021

Friday, 16 Rabiul Awwal 1443 / 22 October 2021

Airlangga Jelaskan Perubahan Paradigma Pembangunan Ekonomi

Jumat 17 Sep 2021 23:55 WIB

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Nashih Nashrullah

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, menyatakan percepatan pembangunan ekonomi berbasis inovasi tahapan menuju Indonesia Emas

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, menyatakan percepatan pembangunan ekonomi berbasis inovasi tahapan menuju Indonesia Emas

Foto: istimewa
Percepatan pembangunan ekonomi berbasis inovasi tahapan menuju Indonesia Emas

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Ilmu pengetahuan atau Iptek dan inovasi berkaitan erat dengan laju pertumbuhan ekonomi. Percepatan pembangunan ekonomi berbasis inovasi merupakan salah satu tahapan dalam pencapaian Visi Indonesia Emas pada 2045. 

 

Baca Juga

Indonesia, menurut dia, diproyeksikan menjadi negara dengan produk domestik bruto terbesar ketujuh pada 2045. Guna mencapai target tersebut, Indonesia harus tumbuh rata-rata 5,7 persen per tahun. Hal ini hanya akan terjadi apabila penguatan struktur ekonomi dan percepatan pertumbuhan berbasis inovasi telah dilakukan. 

 

“Sebagai upaya mendorong pertumbuhan ekonomi agar mencapai target tersebut, arah kebijakan dan strategi nasional pembangunan Iptek 2020-2024 akan berfokus pada peningkatan akselerasi ekosistem riset dan inovasi. Lalu peningkatan jumlah dan kualitas belanja Litbang, prioritas Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) yang diharapkan bisa langsung bermanfaat untuk masyarakat serta pengembangan Research Power House,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto malalui siaran pers, Jumat (17/9). 

 

Dia menjelaskan, dalam kerangka mewujudkan ekosistem riset dan inovasi, perubahan paradigma pembangunan ekonomi menjadi suatu hal penting. Paradigma pembangunan ekonomi yang semula berbasis resource-driven economy perlu didorong bergeser menjadi berbasis innovation-driven economy. 

 

Berbagai hal yang dapat dilakukan ke depannya dalam upaya pemulihan ekonomi berbasis riset dan inovasi, kata dia, di antaranya mendorong Riset Ekonomi Hijau melalui kegiatan-kegiatan yang mencakup pengembangan energi baru dan terbarukan, bahan bakar hijau (green fuel), sarana dan prasarana kendaraan listrik seperti fast charging stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). 

 

Lalu mempercepat komersialisasi hasil riset dan inovasi melalui kerja sama dengan dunia usaha seperti industri dan UMKM, serta dengan lembaga penelitian lainnya. Upaya ini sangat penting dalam alih teknologi yang mengarah pada pemanfaatan teknologi modern yang mempunyai daya proses yang optimal. 

 

Berikutnya, meningkatkan kemampuan teknologi informasi dalam pengembangan riset dan inovasi melalui pemanfaatan data online dan offline sehingga akan terjadi integrasi digital. Pengembangan riset dan inovasi sejalan dengan tren digitalisasi yang saat ini berkembang.  

 

Indonesia dinilai memiliki banyak potensi dan peluang yang harus dimanfaatkan. Di antaranya nilai transaksi ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mencapai 124 miliar dolar AS atau Rp 1.700 triliun pada 2025. 

 

Saat ini ada, menurut dia, dua sektor ekonomi digital yang menjadi pendatang baru dan memiliki prospek pertumbuhan yang menjanjikan dalam lanskap ekonomi digital Indonesia, yakni edutech dan healthtech. 

 

Pada 2020, pengguna aktif aplikasi Edutech Indonesia tumbuh signifikan mencapai 200 persen dan jumlah penguna healthtech (telemedicine) juga meningkat signifikan. 

 

Bahkan, kata Airlangga, dalam lima tahun ke depan, diprediksi pengguna telemedicine di Asia Pasifik meningkat sebesar 109 persen. Kemajuan teknologi digital harus dipandang menjadi sebuah peluang bagi Indonesia.  

 

Dia menyebutkan, berbagai studi menyatakan, peluang ekonomi digital Indonesia masih terbuka lebar karena didukung oleh sejumlah faktor, seperti jumlah penduduk yang terbesar keempat di dunia. 

 

Jumlah penduduk usia produktif mencapai lebih dari 191 juta atau 70,7 persen, ditopang oleh Generasi Z sebanyak 75,49 juta orang, atau 27,94 persen dan Generasi Y atau milenial yang mencapai 69,90 juta jiwa atau 25,87 persen.

 

Dia mengatakan demi mendorong peningkatan daya saing dan meraih peluang tersebut, pemerintah telah memberikan dukungan fiskal berupa kebijakan Super Tax Deduction bagi kegiatan vokasi, industri padat karya maupun penelitian dan pengembangan. 

 

“Hal itu dilakukan agar dapat mendorong dan memunculkan talenta-talenta (SDM) Indonesia yang hebat, produktif, serta SDM yang dapat membawa negara ini bersaing secara global khususnya di era digital saat ini,” kata dia. 

 

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA