Friday, 16 Rabiul Awwal 1443 / 22 October 2021

Friday, 16 Rabiul Awwal 1443 / 22 October 2021

Erick Thohir Ungkap Kunci Utama Perampingan Jumlah BUMN

Jumat 17 Sep 2021 21:52 WIB

Red: Friska Yolandha

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir.

Foto: Kementerian BUMN
Perbaikan rantai pasok dan merapikan ekosistem jadi hal penting dalam penataan BUMN.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri BUMN Erick Thohir mengungkapkan kunci utama terkait perampingan jumlah BUMN yakni perbaikan rantai pasok dan merapikan ekosistem. Setiap BUMN fokus dengan tugasnya masing-masing.

"Kita memperbaiki rantai pasoknya, contoh dulu Bio Farma, Kimia Farma, Indofarma berdiri sendiri-sendiri tapi sekarang kita sudah jadikan satu holding. Bio Farma memiliki saham di Kimia Farma dan Indofarma," ujar Erick Thohir dalam seminar daring di Jakarta, Jumat (17/9).

Tetapi, menurut Erick, Kementerian BUMN juga bedakan strategi ketiga BUMN farmasi tersebut, Bio Farma akan fokus kepada vaksin, Kimia Farma difokuskan kepada chemical dan Indofarma fokus kepada herbal.

"Kita tahu bahan baku obat kita 90 persen impor, obat kita pun mayoritas impor, alat kesehatan kita 90 persen impor. Ini bagus juga bahwa Covid-19 membangun kita dari tidur. Karena itu kemarin pada awal tahun sebelum pandemi Covid-19, kita gabungkan dan membuat roadmap bahwa Kimia Farma akan fokus kepada chemical, kalau Indofarma akan kita posisikan kepada herbal," katanya.

Erick juga menambahkan bahwa Indonesia juga memiliki kekuatan herbal yang luar biasa namun selama ini tidak dibangun, terkait hal ini Kementerian BUMN coba petakan ulang. Jadi ada vaksin, chemical dan herbal.

Kementerian BUMN juga memastikan di sisi lain Pertamina juga mulai membangun petrochemical, karena salah satu turunan dari petrochemical yakni membangun produk untuk bahan baku obat contohnya paracetamol. Indonesia masih mengimpor obat paracetamol, nanti ketika Pertamina menyelesaikan pabrik di Cilacap maka Indonesia tidak perlu mengimpor lagi paracetamol.

"Ini satu ekosistem di bawah Wamen I BUMN, kalau orang melihat energi dan kesehatan maka apa hubungannya? Tapi itu satu ekosistem kita rapihkan. Sama halnya juga dengan Wamen II BUMN itu satu ekosistem tersendiri, BUMN infrastruktur di bawah Wamen II BUMN, BUMN semen juga di bawah Wamen II yang tadinya BUMN semen tidak tahu posisinya di mana," kata Erick Thohir.

Bahkan sekarang, lanjut dia, Kementerian BUMN konsolidasikan dan akan meluncurkan holding pariwisata dan turunannya di mana Kementerian BUMN saat ini menggabungkan strategi pariwisata BUMN menjadi satu atap. Holding pariwisata tersebut akan terdiri dari Angkasa Pura I dan Angkasa Pura II, ada BUMN penerbangan dan hotel.

Sebelumnya Menteri BUMN Erick Thohir menyampaikan bahwa Kementerian BUMN telah selesai menyusun klasterisasi BUMN dari 27 menjadi 12 klaster, di mana masing-masing wakil menteri BUMN menaungi enam klaster. Wamen BUMN I membina enam klaster yaitu Klaster Industri Migas dan Energi, kemudian, Klaster Industri Minerba. Selanjutnya, Klaster Industri Perkebunan dan Kehutanan, lalu terdapat Klaster Industri Pupuk dan Pangan. Ada lagi Klaster Industri Farmasi dan Kesehatan. Terakhir, Klaster Industri Pertahanan, Manufaktur, dan Industri lainnya. Enam klaster lainnya dibina oleh Wakil Menteri BUMN II yakni Klaster Jasa Keuangan.

Selanjutnya, Klaster Jasa Asuransi dan Dana Pensiun, kemudian Klaster Telekomunikasi dan Media. Lalu Klaster Pembangunan Infrastruktur, di mana Erick menggabungkan BUMN karya dengan BUMN semen, dengan alasan keduanya saling membutuhkan dan dapat bersinergi.Kemudian, Klaster Pariwisata, Logistik, dan Lainnya, yang terdiri dari di antaranya Hotel Indonesia, Taman Wisata Candi, dan Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC). Terakhir, Klaster Sarana dan Prasarana Perhubungan, yakni seperti Angkasa Pura (AP), Kereta Api Indonesia (KAI), dan Damri.

 

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA