Monday, 12 Rabiul Awwal 1443 / 18 October 2021

Monday, 12 Rabiul Awwal 1443 / 18 October 2021

Kecewa dengan AS, Prancis Batalkan Resepsi di Washington

Jumat 17 Sep 2021 17:48 WIB

Rep: Fergi Nadira/ Red: Teguh Firmansyah

Presiden Prancis Emmanuel Macron

Presiden Prancis Emmanuel Macron

Foto: AP/Francois Mori/POOL AP
Prancis geram kehilangan kesepakatan penjualan kapal selam senilai 40 miliar dolar AS

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Prancis memendam kekecewaan atas keputusan Amerika Serikat (AS) membentuk aliansi Indo-Pasifik dengan Inggris dan Australia. Salah satu kesepakatan yakni pengembangan kapal selam nuklir untuk Australia. Kesepakatan itu membuat penjualan kapal selam Prancis ke Australia bernilai 40 miliar dolar AS akhirnya batal

Kedutaan Besar Prancis di Washington kemudian membatalkan perayaan untuk memperingati kemenangan angkatan laut Perang Revolusi oleh Prancis yang membantu AS memenangkan kemerdekaannya. Acara untuk memperingati "240 tahun Pertempuran Capes," yang akan berlangsung Jumat malam di kediaman duta besar Prancis dan di atas kapal fregat Prancis di Baltimore, dibatalkan.

Kedutaan mengatakan, perayaan dibuat lebih sederhana. Perubahan itu, dikatakan, untuk membuat orang-orang lebih nyaman. "Ini bukan kemarahan. Kami memang tidak senang, tetapi ini adalah cara praktis untuk menyesuaikan diri," kata pejabat senior Prancis di AS yang menolak menyebutkan identitasnya, seperti dikutip laman CNN, Jumat (17/9).

"Kami tetap merayakannya tetapi tidak ingin orang-orang menjadi wajib untuk ikut bersama," ujarnya menambahkan.

Bagian lain dari perayaan akan berlanjut, termasuk peletakan karangan bunga di Annapolis pada Sabtu (18/9) mendatang dan kunjungan kapal perusak Prancis ke Pelabuhan Baltimore pada Senin. .

Dalam cicitan Rabu (15/9), Duta Besar Prancis untuk AS Philippe Etienne keheranan tentang kesepakatan baru itu. "Menariknya, tepat 240 tahun yang lalu Angkatan Laut Prancis mengalahkan Angkatan Laut Inggris di Chesapeake Bay, membuka jalan bagi kemenangan di Yorktown dan kemerdekaan Amerika Serikat," cicitnya.

Pejabat Prancis menyatakan kemarahan atas perjanjian baru trilateral AUKUS (Australia, Inggris dan AS). Menteri Luar Negeri dan Pertahanan Prancis mengatakan dalam pernyataan bersama bahwa keputusan tersebut bertentangan dengan surat dan semangat kerja sama yang berlaku antara Prancis dan Australia, berdasarkan hubungan kepercayaan politik serta pada pengembangan basis industri dan teknologi pertahanan tingkat tinggi di Australia.

"Pilihan Amerika untuk mengecualikan sekutu dan mitra Eropa seperti Prancis dari kemitraan penataan dengan Australia, pada saat kita menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya di kawasan Indo-Pasifik, baik dalam hal nilai-nilai kita atau dalam hal penghormatan terhadap multilateralisme berdasarkan aturan hukum, menunjukkan kurangnya koherensi yang hanya bisa dicatat dan disesali Prancis," kata pernyataan bersama itu.

Menteri Luar Negeri Antony Blinken pada Kamis (16/9) waktu setempat berusaha untuk meredakan keretakan antara AS dan Prancis. Dia menekankan pentingnya mereka sebagai "mitra vital" di Indo-Pasifik dan di seluruh dunia.

"Saya ingin menekankan bahwa tidak ada perpecahan regional yang memisahkan kepentingan Atlantik dan mitra Pasifik kami," katanya dalam sambutannya di Departemen Luar Negeri.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA