Sunday, 18 Rabiul Awwal 1443 / 24 October 2021

Sunday, 18 Rabiul Awwal 1443 / 24 October 2021

Defisit Dagang dengan China Diprediksi Terus Mengecil

Jumat 17 Sep 2021 16:57 WIB

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Friska Yolandha

Pelabuhan Kuala Tanjung - Terminal Multipurpose Kuala Tanjung. Kementerian Perdagangan memproyeksikan, defisit perdagangan Indonesia dengan China bakal terus mengecil dan hingga akhir 2021 akan mencatatkan defisit yang lebih rendah dari 2020.

Pelabuhan Kuala Tanjung - Terminal Multipurpose Kuala Tanjung. Kementerian Perdagangan memproyeksikan, defisit perdagangan Indonesia dengan China bakal terus mengecil dan hingga akhir 2021 akan mencatatkan defisit yang lebih rendah dari 2020.

Foto: Pelindo 1
Neraca perdagangan dengan China Januari-Agustus 2021 defisit 3,96 miliar dolar AS.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Perdagangan memproyeksikan, defisit perdagangan Indonesia dengan China bakal terus mengecil dan hingga akhir 2021 akan mencatatkan defisit yang lebih rendah dari 2020. Hal itu salah satunya didorong oleh perjanjian dagang ASEAN-China Free Trade Agreement (FTA) yang telah diratifikasi.

Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi, mennyampaikan, neraca perdagangan dengan China kurun waktu Januari-Agustus 2021 mengalami defisit 3,96 miliar dolar AS. Angka defisit itu mengalami perbaikan dari periode sama tahun lalu yang defisit hingga 5,07 miliar dolar AS.

“Jumlah ini sebenarnya telah terjadi penurunan yang sangat drastis dibandingkan dengan periode sebelum 2020. Di mana, pada 2019 defisit kita hampir 15 miliar dolar AS,” kata Lutfi dalam konferensi pers, Jumat (17/6).

Lutfi mengatakan, China saat ini menjadi mitra dagang terbesar bagi Indonesia. Ekspor ke China sejak Januari-Agustus 2021 tercatat 31,07 miliar dolar AS sedangkan impor sebesar 35,03 miliar dolar AS.

Menurutnya, jika tren tersebut konsisten hingga akhir tahun, total defisit dagang dengan China diyakini akan lebih rendah dari tahun 2020 yang sebesar 7,85 dolar AS. "Ini akan menjadi defisit terendah kita sepanjang sejarah sejak kita menandatangani Asean-China FTA," kata dia.

Lebih lanjut, Lutfi mengatakan, andalan ekspor Indonesia ke China saat ini memang kembali ke produk hulu. Disaat yang bersamaan, supercycle komoditas tengah terjadi yang menguntungkan Indonesia karena tingginya harga-harga komoditas.

Namun pemerintah optimis dalam waktu tidak lama, pergeseran produk ekspor Indonesia ke China akan mulai beralih ke produk jadi atau hilir.

Ia mencontohkan seperti investasi dari China untuk baterai kendaraan listrik yang bakal segera memasuki tahap peletakan batu pertama. Hasil dari investasi itu sejatinya akan kembali dibeli oleh pengusaha China demi memasok kebutuhan pasar mereka yang besar.  

"Jadi ketika ini terjadi neraca perdagangan dengan China akan menjadi seimbang kita akan ditopang oleh industri-industri tersebut. Mestinya ini tidak lebih dari tiga tahun bahkan ketika supercycle komoditas sudah kembali normal," kata dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA