Monday, 12 Rabiul Awwal 1443 / 18 October 2021

Monday, 12 Rabiul Awwal 1443 / 18 October 2021

Ada Sejumlah Pria Tak Mau Divaksinasi Karena Takut Buah Zakar Membengkak

Sabtu 18 Sep 2021 05:09 WIB

Red:

Nicki Minaj

Nicki Minaj

Foto: EPA
Apakah Vaksin COVID-19 bisa membuah buah zakar membengkak?

Selasa kemain, penyanyi ternama Nicki Minaj mengajukan pertanyaan yang mungkin belum ada dalam pikiran kita sebelumnya: Apakah Vaksin COVID-19 bisa membuah buah zakar membengkak sampai membuat tunangan mereka membatalkan pernikahan?

Tentunya cerita Nicki tidak bisa dijadikan sumber informasi yang akurat soal vaksin atau menjadi alasan yang benar jika tidak mau divaksinasi.

Tidak ada bukti ilmiah dan medis jika vaksin COVID bisa menyebabkan pembengkakan buah zakar.

Sejumlah pakar kesehatan menyanggah unggahan tersebut, bahkan beberapa membuat unggahan yang lucu dengan cepat menyebar di internet untuk menanggapinya.

Dokter Sandro Demaio, direktur eksekutif dari lembaga VicHealth di Melbourne, mengatakan apa yang diklaim Nicki Minaj sepenuhnya salah.

Malah menurutnya dengan tidak divaksinasi COVID bisa membuat para pria berisiko mengalami masalah reproduksi.

"COVID-19 memiliki dampak komplikasi yang sangat serius, terutama karena varian Delta … tentunya selain kematian, juga di kalangan pria muda terkait dengan impotensi dan gangguan ereksi," kata Dr Demaio kepada program Hack milik ABC.

Dr Demaio juga mengatakan  COVID-19 dapat berdampak pada fungsi seksual dan kesejahteraan psikologis pria.

Kurangnya pesan kesehatan untuk pria muda

Unggahan Nicki Minaj di Twitter menjadi mengangkat masalah yang selama ini hampir saja diabaikan:  keraguan vaksinasi di kalangan pria muda.

Ini juga menjadi sebuah sinyal jika ada kelompok tertentu yang tidak terjangkau dengan baik dalam menyebarkan pesan kesehatan, terutama informasi soal vaksinasi.

Di Australia, pria muda lebih lambat untuk divaksinasi ketimbang perempuan di usia yang sama.

Bahkan secara keseluruhan, kemungkinan pria untuk divaksinasi lebih kecil jika dibandingkan perempuan.

Kesenjangan gender dalam vaksinasi paling terlihat jelas di kelompok usia antara 20 - 24 tahun.

Di kalangan perempuan, 51,1 persen perempuan berusia 20 hingga 24 tahun sudah mendapatkan dosis pertama vaksin COVID, sementara di kalangan pria hanya 43,5 persen.

Kesenjangan pada gender ini mungkin bisa dijelaskan dari lebih banyaknya petugas kesehatan perempuan yang lebih banyak divaksinasi pada awal program vaksinasi dilakukan di Australia.

Para pengamat khawatir bagaimana Pemerintah Australia nantinya akan memastikan para pria muda menjadi lebih termotivasi untuk divaksinasi.

Di Inggris, di mana vaksin diluncurkan jauh lebih cepat ketimbang di Australia, bahkan ada kesenjangan gender yang lebih mengkhawatirkan.

53 persen pria berusia 25 - 29 tahun di Inggris sudah mendapat dua dosis vaksin, dibandingkan dengan 62 persen perempuan di kelompok usia yang sama.

Hugo Toovey, seorang advokat kesehatan pria dan penyintas kanker testis dan usus, mengatakan dia prihatin dengan sikap beberapa pria muda dalam menanggapi COVID dan vaksin.

"Para pria muda melihat hal-hal seperti Covid dan berpikir, 'Yah, saya seorang pria muda, bugar dan sehat, hal-hal ini tidak akan memengaruhi saya… saya kuat. Saya tidak perlu mendapatkan vaksin'," ujarnya.

Dr Sandro Demaio setuju.

"Saya pikir kita bisa terus menyempurnakan pesan kesehatan untuk pria muda," katanya.

Jadi, meskipun mitos tentang vaksin yang menyebabkan buah zakar cukup mudah untuk dibantah, kekhawatiran beberapa pemuda tentang vaksin dan COVID pada umumnya perlu dianggap lebih serius.

"Pesan untuk pria muda hampir sama dengan pesan untuk semua orang, yaitu kalau Anda ingin menjaga kesehatan Anda sendiri, dan kesehatan keluarga Anda, kalau Anda ingin kembali bekerja, kalau Anda ingin kembali ke semua hal yang Anda nikmati dan berkumpul dengan teman-teman Anda, kalau Anda ingin menjaga kesehatan jangka panjang, fisik, mental dan reproduksi Anda, dapatkanlah vaksinasi."

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan ABC News (Australian Broadcasting Corporation). Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab ABC News (Australian Broadcasting Corporation).
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA