Legislator Usulkan 3 Pendekatan Perkuat Keamanan Laut

Masuknya kapal-kapal asing ke wilayah Indonesia tidak hanya merugikan secara ekonomi

Jumat , 17 Sep 2021, 11:40 WIB
 Anggota Komisi I DPR Sukamta mengatakan, masuknya kapal-kapal asing ke wilayah Indonesia tidak hanya merugikan secara ekonomi, tetapi juga bisa membahayakan kedaulatan wilayah Indonesia. (ilustrasi)
Foto: EPA-EFE/ERIC IRENG
Anggota Komisi I DPR Sukamta mengatakan, masuknya kapal-kapal asing ke wilayah Indonesia tidak hanya merugikan secara ekonomi, tetapi juga bisa membahayakan kedaulatan wilayah Indonesia. (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anggota Komisi I DPR Sukamta mengatakan, masuknya kapal-kapal asing ke wilayah Indonesia tidak hanya merugikan secara ekonomi, tetapi juga bisa membahayakan kedaulatan wilayah Indonesia. Ia meminta pemerintah serius untuk meningkatkan kapasitas patroli keamanan wilayah laut terluar Indonesia.

"Terutama di wilayah Laut Natuna Utara, perlu ada konsentrasi yang lebih besar untuk melakukan patroli. Wilayah ini berdekatan dengan zona sengketa di laut China Selatan antara China dan negara-negara ASEAN," ujar Sukamta lewat keterangan tertulisnya, Jumat (17/9).

Ia mengusulkan tiga pendekatan dalam mengatasi persoalan masuknya kapal asing ke wilayah Indonesia. Pertama, dengan memperkuat kekuatan kapal patroli Badan Keamanan Laut (Bakamla).

"Industri pertahanan milik Indonesia bisa lebih digiatkan untuk memproduksi kapal-kapal jenis coast guard. Ini untuk mendukungan cakupan patroli yang selama ini dilakukan," ujar Sukamta.

Kedua adalah memperkuat koordinasi keamanan laut, dengan melibatkan berbagai kekuatan yang dimiliki. Terutama antara TNI Angkatan Laut (AL) dan Angkatan Udara (AU).

"Bakamla juga bisa bekerjasama dengan LAPAN untuk memperkuat pemanfaatan teknologi penginderaan melalui satelit dan udara," ujar Wakil Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) DPR itu.

Terakhir adalah melakukan pendekatan untuk mengamankan wilayah Laut Indonesia. Bisa dengan mencontoh strategi Cina mengerahkan milisi laut dalam sengketa di Laut Cina Selatan.

"Indonesia punya banyak nelayan handal, mereka bisa dilibatkan untuk ikut mengamankan wilayah Laut Natuna Utara. Pengerahan nelayan-nelayan Indonesia di wilayah yang rawan dimasuki pihak asing, bisa ikut membantu memberikan informasi ke Bakamla," ujar Sukamta.

Diketahui sebelumnya, sejumlah nelayan di Kepuluan Riau ketakutan melihat enam kapal Cina mondar-mandir di Laut Natuna Utara, Senin (13/9). Kapal yang terlihat paling jelas adalah kapal destroyer Kunming-172.

Dalam video yang beredar, terlihat enam kapal Cina berada di zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia. Kapal yang terlihat paling jelas adalah kapal destroyer Kunming-172.