Thursday, 27 Rabiul Akhir 1443 / 02 December 2021

Thursday, 27 Rabiul Akhir 1443 / 02 December 2021

PAHO Ungkap Penderitaan Anak Akibat Belum Divaksinasi

Kamis 16 Sep 2021 17:35 WIB

Rep: Haura Hafizhah/ Red: Reiny Dwinanda

Vaksinasi Covid-19 pada anak (Ilustrasi). PAHO mencatat, 1,9 juta kasus Covid-19 terjadi pada anak-anak di negara anggotanya sejak awal 2021.

Vaksinasi Covid-19 pada anak (Ilustrasi). PAHO mencatat, 1,9 juta kasus Covid-19 terjadi pada anak-anak di negara anggotanya sejak awal 2021.

Foto: www.freepik.com.
PAHO mencatat kasus rawat inap-kematian Covid-19 didominasi anak belum divaksinasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pan American Health Organization (PAHO) mencatat, orang dewasa yang mendapatkan vaksin Covid-19 semakin banyak. Di sisi lain, anak-anak yang belum memenuhi syarat untuk vaksinasi kini mendominasi persentase rawat inap dan bahkan angka kematiannya lebih besar di sebagian besar negara.

"Sembilan bulan terakhir, infeksi di kalangan anak-anak dan remaja di Amerika telah melampaui 1,9 juta kasus dan mereka menghadapi risiko kesehatan yang signifikan," kata Direktur PAHO Carissa Etienne dikutip dari Reuters pada Kamis (16/9).

Pandemi Covid-19, menurut Etienne, telah memicu krisis pendidikan terburuk yang pernah terjadi di Amerika karena tidak adanya sekolah tatap muka. Ia juga menyebut, pandemi mengganggu layanan kesehatan seksual dan reproduksi di lebih dari setengah negara di kawasan itu, mengakibatkan salah satu lompatan terbesar dalam kehamilan remaja yang terlihat dalam satu dekade.

Etienne menyebut, lockdown dan disrupsi ekonomi telah meningkatkan risiko kekerasan dalam rumah tangga dan bagi banyak anak. Rumah pun mungkin bukan lagi tempat yang aman.

"Anak-anak kita melewatkan lebih banyak hari sekolah daripada anak-anak di wilayah lain. Setiap hari anak-anak belajar tanpa ke sekolah, semakin tinggi kemungkinan mereka putus sekolah, dan tidak pernah kembali ke sekolah," kata dia.

Sementara itu, Asisten Direktur PAHO Jarbas Barbosa mengatakan, sejauh ini satu-satunya vaksin yang disetujui WHO untuk remaja adalah Pfizer. Sementara itu, Moderna telah meminta persetujuan penggunaan darurat vaksinnya untuk anak usia 12 sampai 15 tahun.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA