Wednesday, 22 Safar 1443 / 29 September 2021

Wednesday, 22 Safar 1443 / 29 September 2021

Dampak Multiefek Jika Indonesia Gagal Kelola Bonus Demografi

Rabu 15 Sep 2021 15:05 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Indonesia akan menghadapi bonus demografi usia produktif. Ilustrasi Bonus Demografi

Indonesia akan menghadapi bonus demografi usia produktif. Ilustrasi Bonus Demografi

Foto: MgIT03
Indonesia akan menghadapi bonus demografi usia produktif

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA— Bonus demografi yang akan dihadapi Indonesia jika tidak dipersiapkan dengan baik, justru dapat menjadi bencana, salah satunya adalah terjebaknya Indonesia dalam middle income trap (perangkap pendapatan menengah).   

Anggota Komisi I DPR RI, Taufig R  Abdullah, mengatakan enduduk Indonesia didominasi gen milenial dan gen Z, yaitu sebanyak 53.81 persen dari total penduduk Indonesia. 

Baca Juga

Transformasi digital, kata dia, mengubah secara fundamental tentang cara pandang, cara berfikir, cara bersosialisasi, cara berkomunikasi, cara menganalisa, cara melakukan forecasting, cara melakukan perencanaan, cara mengevaluasi, cara menilai, dan lain sebagainya. 

Menuruti dia,  ini akan terus berubah dengan cepat di masa yang kan datang. Transformasi digital telah mengubah struktur sosial, struktur kerja, struktur budaya, struktur industri, struktur interaksi antarmanusia, struktur rantai distribusi, penyediaan layanan, dan kebutuhan tenaga kerja. 

Dampak positif yang dihasilkan transformasi digital di antaranya, munculnya lapangan kerja baru, peningkatan produktivitas, peningkatan komunikasi, efisiensi biaya, efektivitas layanan publik, dan inovasi yang menciptakan produk dan layanan yang lebih baik.

Sementara untuk dampak negatifnya adalah maraknya kriminal siber, phising, telemarketing, pinjaman online ilegal, hoax, pornografi, dan lain-lain. “Beberapa soft skill yang harus dikembangkan yaitu berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas,” tutur dia dalam Webinar Aptika Kominfo, Selasa (14/5).     

Guru besar Fisip Unair, Henri Subiakto, menyebutkan setiap aktivitas warga di dunia digital selalu terkait dengan data pribadi. Pemanfaatan data pribadi tersebut memerlukan tata kelola yang baik dan akuntabel. 

“Dibutuhkan regulasi yang lengkap, kuat dan tegas, sekaligus pentingnya sumber daya manusia yang cerdas, tangguh dan adaptif,” papar dia. 

Perubahan teknologi ini mengatarkan kita menuju masyarakat digital. Pemerintah juga sudah mencanangkan langkah-langkah strategis untuk mempercepat tranformasi digital. 

Tantangan yang akan dihadapi Indonesia dalam menyambut Revolusi Industri 4.0 adalah akan ada 3,7 juta pekerjaan baru sebagai dampak ekonomi digital dan 52,6 juta pekerjaan lama berpotensi hilang. 

Dia mengatakan, tantangan pekerjaan masa depan yang dihadapi seperti jumlah pelamar yang lebih banya daripada lowongan pekerjaan, perusahaan menuntut pelamar mempunyai banyak keahlian, dan akses yang terbuka dimana HRD dapat mencari tahu background seseorang dari media sosialnya. 

“Pekerjaan yang akan hilang di era 4.0 adalah pekerjaan yang bersifat manual dan repetitif dan ilmu yang sifatnya memorizing yang akan digantikan kecerdasan artifisial,” ujar dia. 

Dia menambahkan teknologi memaksa dan mendorong manusia untuk lebih tangkas atau menyesuaikan dengan perkembangan yang kian cepat agar tidak tergilas. Hanya orang yang mampu beradaptasi dengan kecepatan perubahan yang akan mampu tampil sebagai pemenang. “Siap atau tidak, teknologi tidak bisa dilawan tapi harus dimanfaatkan,” tutur dia.  

Beberapa pekerjaan yang dibutuhkan di era teknologi seperti content creator, digital marketer, data scientist, web/apps developer, graphic designer, dan lain-lain. Dia memberikan kiat untuk sukses dalam hidup dan kerja yaitu dengan 6S, smile, speech, sport, singing, smart, dan study.  

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA