Rabu 15 Sep 2021 06:05 WIB

Taliban Dapat Emas Batangan di Rumah Eks Wapres Afghanistan

Taliban temukan 6 juta dolar AS dan emas batangan di rumah mantan wapres

Rep: Uji Sukma Medianti/ Red: Christiyaningsih
 Pasukan Taliban berjaga di pos pemeriksaan pinggir jalan di Kabul, Afghanistan, Kamis (9/10/2021).
Foto: EPA-EFE/STRINGER
Pasukan Taliban berjaga di pos pemeriksaan pinggir jalan di Kabul, Afghanistan, Kamis (9/10/2021).

REPUBLIKA.CO.ID, KABUL — Taliban menemukan uang enam juta dolar AS dan setidaknya emas batangan di rumah milik mantan wakil presiden Afghanistan Amrullah Saleh, yang telah menyatakan dirinya sebagai Presiden Afghanistan yang sah saat ini. Kantor berita Afghanistan Khaama Press mengatakan sebuah video menunjukkan gerilyawan Taliban mendemonstrasikan aset yang ditemukan di kediaman Saleh.

Sebuah sumber dalam gerakan tersebut mengonfirmasi kepada Sputnik bahwa ‘sejumlah besar uang’ telah ditemukan di rumah wakil presiden di pemerintahan Ashraf Ghani yang tumbang. Baik Saleh maupun anggota perlawanan anti-Taliban belum mengomentari klaim tersebut.

Baca Juga

Amrullah Saleh mengklaim kekuasaan dan tugas presiden pada 17 Agustus 2021, tak lama setelah Taliban menguasai Kabul, memaksa Presiden Ashraf Ghani melarikan diri dan pemerintah yang didukung Barat dibubarkan. Saleh telah menjabat sebagai wakil presiden negara itu sejak Februari 2020.

Ia juga pernah menjadi menteri dalam negeri pada 2018-2019 dan menjabat sebagai Kepala Direktorat Keamanan Nasional pada 2004-2010. Pada 10 September, sebuah sumber yang dekat dengan pasukan perlawanan mengatakan Taliban mengambil tawanan dan kemudian membunuh Rohullah Saleh, saudara laki-laki dari presiden Afghanistan yang memproklamirkan diri.

Pada 15 Agustus, Taliban memasuki Kabul dan menyelesaikan pengambilalihan mereka atas Afghanistan, dengan pengecualian provinsi utara Panjshir, yang tetap menjadi pusat perlawanan hingga jatuh pada 6 September. Keesokan harinya, Taliban mengumumkan susunan pemerintahan sementara.

Pemerintahan ini akan dipimpin oleh Mohammad Hasan Akhund, yang menjabat sebagai menteri luar negeri selama pemerintahan Taliban pertama. Akhund berada di bawah sanksi PBB sejak 2001.

Pasukan perlawanan sejak itu bersumpah untuk mundur ke perang gerilya. Sementara pemimpin mereka, Ahmad Massoud, meminta warga Afghanistan untuk memberontak melawan Taliban.

Baca juga : Putra KH Maimun Zubair: Pernyataan Pangkostrad Lampaui Batas

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement