Friday, 5 Rajab 1444 / 27 January 2023

5 Jenis Perkataan Islami yang Mesti Dipakai Bermedia Sosial

Selasa 14 Sep 2021 21:55 WIB

Rep: Andrian Saputra/ Red: Nashih Nashrullah

Bermedia sosial mesti dilakukan dengan adab-adab Islami. Sebarkan kebaikan lewat media sosial. Ilustrasi

Bermedia sosial mesti dilakukan dengan adab-adab Islami. Sebarkan kebaikan lewat media sosial. Ilustrasi

Foto: pixabay
Bermedia sosial mesti dilakukan dengan adab-adab Islami

REPUBLIKA.CO.ID, Berbagai platform media sosial (medsos) telah menghiasi kehidupan masyarakat modern. Medsos dianggap sebagai sarana yang memudahkan untuk berinteraksi dengan banyak orang,  mengaktualisasikan diri, membagikan pengalaman atau peristiwa yang dialami, dan lain sebagainya. Tetapi dalam penggunaannya, sering didapati masyarakat mengenyampingkan ragam etika dan adab saat berkomunikasi melalui medsos.

Menurut cendekiawan Muslim Prof KH Said Agil Husin Al Munawar menjelaskan sejatinya bagi seseorang dalam menggunakan medsos tidak boleh menggunakan kata-kata kasar, provokatif, porno, atau menyinggung atau melecehkan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). 

Baca Juga

Selain itu dalam etika bermedsos, seseorang juga tidak boleh mengunggah artikel hoaks, menduplikasi artikel, gambar, yang mempunyai hak cipta. 

Prof Said mengatakan interaksi yang dilakukan di medsos harus menggunakan dan memperhatikan etika di dalam berinteraksi. Hal ini sangat penting agar aktivitas di medsos tidak berdampak buruk pada kehidupan baik langsung maupun tidak langsung. 

Menurut Prof Said besarnya angka pengguna medsos di Tanah Air sejatinya dapat menjadi peluang bagi negara dalam menyongsong kemajuan. Tapi disisi lain banyak penyalahgunaan medsos yang berdampak buruk bagi kehidupan juga menjadi tantangan tersendiri.

Seperti masifnya penyebaran hoaks di medsos, ujaran kebencian, kejahatan siber, dan pemanfaatan tidak bijak lainnya termasuk unggahan berunsur intoleransi, permusuhan. 

"Kita tidak bisa menyalahkan teknologi, karena itu barang mati, tinggal kitanya apakah kita bisa memanfaatkannya dengan baik dia akan menjadi baik, memanfaatkannya tidak  baik menjadikan itu juga tidak baik. Maka filternya atau adab dan etikanya itu berada di tangan kita yang menggunakan dan berkomunikasi dengan media sosial ini," kaya Prof Said Agil dalam kajian virtual yang diselenggarakan Masjid Raya Bintaro Jaya beberapa waktu lalu. 

Lebih lanjut Prof Said Agil menjelaskan dalam ajaran Islam isyarat tentang etika budaya komunikasi di medsos intinya adalah menggunakan kalimah tayyibah. 

Atau kalimat yang baik yang mengandung unsur solidaritas, kooperatif, ekualitas, dalam bingkai menjaga persatuan dan kesatuan atau ukhuwah.  Seorang Muslim dapat mengacu pada Alquran dalam menyampaikan bentuk-bentuk komunikasi dalam media sosial.  

Di antaranya yakni dakwah yaitu mengajak pada kebaikan, nasihat atau mauidzah yaitu memberi masukan untuk kebaikan, berdialog atau hiwar,beradu argumentasi atau jidal, tadzkir memberi peringatan, tabsyir memberi kabar gembira hingga idhkali as-surur yaitu kalimat atau unggahan untuk menyenangkan hati seseorang. 

Maka dalam bermedsos seorang Muslim harus menggunakan perkataan yang mulia (qaulan karima), perkataan yang lemah lembut (qaulan layyinah), perkataan yang benar (qaulan sadida), perkataan yang mudah (qaulan maisura), perkataan yang jelas (qaulan balighah), dan perkataan yang baik (qaulan ma'rufa). 

Oleh karena itu Prof Said Agil mengatakan dalam bermedia sosial seorang Muslim tidak boleh menyudutkan orang lain, mengklaim kebenaran sendiri. Seorang Muslim harus mampu menyampaikan dengan hikmah, dan melakukan argumentasi dengan bijaksana. Prof Said Agil juga mengingatkan agar Muslim untuk mengedepankan dialog yang baik bila terdapat perbedaan ide atau pandangan dalam media sosial.  

Sebab itu menurut Prof Said Agil langkah penting yang lebih substatif menanggulangi dampak berkepanjangan teknologi komunikasi melalui jejaring sosial adalah dengan menanamkan etika dan budaya komunikasi di media sosial.  

"Etika komunikasi ini menjadi hal yang sangat mendasar dan prinsipil. Karena melalui basis etika ini generasi bangsa akan terkonstruksi, terbangun menjadi generasi yang santun, saling menghormati, merasakan satu dengan yang lainnya. Pada konteks inilah, kalau kita bisa simpulkan, agama memiliki peran yang sangat signifikan dan strategis dalam  membangun masyarakat berbudaya dan beretika," katanya.    

 

 

sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA