Selasa 14 Sep 2021 10:59 WIB

IHSG Menguat Terkerek Kenaikan Bursa Global

Investor tengah mencerna rilis data Penjualan Ritel (Retail Sales) AS.

Rep: Retno Wulandhari/ Red: Friska Yolandha
Pekerja membersihkan patung banteng dengan latar belakang layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (10/9/2021). IHSG ditutup pada level 6.094,87 atau naik 26,65 poin (0,44 persen) dibanding penutupan sebelumnya di level 6.068,21 seiring dengan kenaikan bursa regional.
Foto: ANTARA/Aditya Pradana Putra/wsj.
Pekerja membersihkan patung banteng dengan latar belakang layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (10/9/2021). IHSG ditutup pada level 6.094,87 atau naik 26,65 poin (0,44 persen) dibanding penutupan sebelumnya di level 6.068,21 seiring dengan kenaikan bursa regional.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona hijau pada perdagangan pagi ini, Selasa (14/9). IHSG dibuka naik ke level 6.100,62 dibanding penutupan sebelumnya yang terkoreksi ke posisi 6.088,15.

Phillip Sekuritas Indonesia memperkirakan IHSG akan bergerak menguat sepanjang hari ini. Penguatan IHSG ini sejalan dengan pergerakan indeks saham Asia.

"Indeks saham di Asia pagi ini dibuka variatif (mixed) dengan kecenderungan naik setelah indek saham utama di Wall Street semalam rebound," tulis Phillip Sekuritas Indonesia dalam risetnya, Selasa (14/9).  

DJIA dan S&P 500 berakhir di teritori positif untuk pertama kali setelah mengalami penurunan selama 6 hari beruntun. Menurut riset, investor fokus pada potensi kenaikan pajak korporasi serta rilis sejumlah data ekonomi AS minggu ini. 

Paket Anggaran Belanja senilai 3,5 triliun dolar AS yang di usulkan oleh Presiden Joe Biden mempunyai peluang besar untuk lolos di Kongres. Paket ini berisi antara lain usul kenaikan pajak korporasi menjadi 26,5 persen dari 21 persen. Jika benar terjadi, kebijakan ini berpotensi memangkas profitabilitas emiten dalam S&P 500 hingga 5 persen di 2022.

Investor menantikan rilis data inflasi (Consumer Price Index) AS malam ini yang dapat memberi gambaran lebih jelas mengenai tren lonjakan harga. Inflasi di prediksi akan tumbuh 5,3 persen yoy pada Agustus 2021, turun tipis dari laju kenaikan 5, 4 persen dari Juli 2021.  

Selain itu, investor juga akan mencerna rilis data Penjualan Ritel (Retail Sales) AS. Data tersebut akan memberi gambaran mengenai kondisi belanja konsumen di tengah kekhawatiran atas penularan varian Delta virus Covid-19 dan tingginya tekanan inflasi belakangan ini. 

Di pasar komoditas, harga minyak mentah mencatatkan kenaikan selama tiga hari beruntun. Ivestor memantau badai yang sedang terjadi di Teluk Meksiko hanya beberapa minggu setelah badai Ida memangkas produksi minyak di kawasan itu.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement