Sunday, 4 Zulhijjah 1443 / 03 July 2022

Stigma tak Logis di Pernyataan Bahasa Arab Ciri-Ciri Teroris

Kamis 09 Sep 2021 18:57 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Pernyataan pengamat intelijen, Susaningtyas Nefo Kertopati, tentang bahasa Arab sebagai ciri-ciri terorisme sangat tendensius, provokatif, tidak berdasar. Foto: Ilustrasi seorang santri menulis aksara Arab di sebuah papan bahasa.

Pernyataan pengamat intelijen, Susaningtyas Nefo Kertopati, tentang bahasa Arab sebagai ciri-ciri terorisme sangat tendensius, provokatif, tidak berdasar. Foto: Ilustrasi seorang santri menulis aksara Arab di sebuah papan bahasa.

Foto: Republika
Stigmatisasi negatif terhadap bahasa Arab itu sangat merugikan dan tidak logis.

Oleh : Muhbib Abdul Wahab, Wakil Ketua Umum IMLA Indonesia, Ketua Prodi Magister Pendidikan Bahasa Arab FITK UIN Jakarta

REPUBLIKA.CO.ID, Seperti disambar petir di siang bolong tanpa awan dan hujan, pernyataan pengamat intelijen, Susaningtyas Nefo Kertopati, tentang bahasa Arab itu sangat tendensius, provokatif, tidak berdasar. Pernyataannya pun sangat tidak logis, dan cenderung menebar ujaran kebencian (hate speech) terhadap umat Islam, khususnya para santri, siswa, mahasiswa, guru, kiai, dan dosen bahasa Arab se-Indonesia.

Susaningtyas menyatakan, “Penyebaran terorisme dengan memperbanyak bahasa Arab sangat mengkhawatirkan generasi penerus bangsa. Anak muda yang sudah tergerus bahasa Arab melupakan bahasa Indonesia, bahkan tidak mau hormat kepada bendera Indonesia.”

Dia mengkhawatirkan anak muda tidak mau lagi hormat pada bendera RI, tidak mau menyanyikan lagu Indonesia Raya, lalu diperbanyak bahasa Arab. Selain itu, ada yang patut dipertanyakan motifnya, pengamat tersebut juga membuat pernyataan tanpa data dan fakta bahwa ciri sekolah yang berorientasi terorisme itu berkiblat ke Taliban, siswa dan gurunya tidak mau pasang foto Presiden dan Wapres, tidak mau menghafal nama-nama menteri dan parpol-parpol. Adakah data akurat hasil penelitian yang menunjukkan tuduhan tersebut?

Logika sesat dan menyesatkan

Kontan saja, pernyataan tersebut mendapat respon dari sejumlah ulama dan tokoh. Ketua Majelis Ulama (MUI) Pusat, Kiai Muhammad Cholil Nafis dalam pemberitaan di Republika.co.id, langsung merespon pernyataan tersebut yang menuding banyak sekolah di Indonesia berkiblat pada militan Taliban dan bahasa Arab sebagai ciri teroris.

Menurutnya, pernyataan Susaningtyas bukan sebagai pengamat melainkan penyesat. Patut diduga, pengamat ini tidak memahami bahasa Arab dan boleh jadi tidak pernah belajar bahasa Arab, sehingga mengaitkannya dengan teroris.

Senada Kiai Cholil Nafis, Dadang Kahmad juga sangat menyayangkan pernyataan pengamat yang tidak berbasis data dan fakta. Pernyataan bahwa bahasa Arab dikaitkan dengan terorisme itu sangat berbahaya. Bahkan, pernyataan Susaningtyas menurut Dadang merupakan bagian dari Islamofobia. Menurut Ketua PP Muhammadiyah, pernyataan itu dapat memicu gerakan pendiskreditan simbol-simbol agama yang lainnya.

Benar bahwa terorisme itu ada dan nyata, dan dilakukan tidak hanya oleh oknum beragama Islam. Dalam agama lain juga ada oknum-oknum yang terlibat aksi terorisme. Misalnya saja serangan teror (penembakan brutal) yang terjadi di Masjid al-Noor dan Linwood Islamic Centre di Christchurch, Selandia Baru (15/3/2019) dan menewaskan sedikitnya 50 orang dan 20 lainnya korban luka. Pelakunya jelas bukan Muslim.

 
Bangsa Indonesia berutang budi karena sekitar 10 persen kosakata dalam KBBI adalah kata serapan dari bahasa Arab.
Sebelum itu, penembakan brutal terhadap jamaah shalat Isya’ juga terjadi di Pusat Kebudayaan Islam Kota Quebec, Sainte-Foy (29/1/2017). Aksi terorisme yang menimpa umat Islam ini menyebabkan 6 orang meninggal dan 5 lainnya kritis. Aksi terorisme berdarah kembali terjadi di Quebec dengan pembunuhan keji terhadap seorang Muslim di Kota Toronto, Provinsi Ontario (12/9/2020) Korban meninggal, Mohamed-Aslim Zafis, relawan Organisasi Muslim Internasional (IMO) sekaligus pengurus Masjid Etobicoke.

Beberapa bulan usai penusukan seorang relawan Muslim di Toronto (6/6/2021), Provinsi Ontario menjadi saksi bisu pembunuhan keji lainnya terhadap umat Islam. Empat anggota keluarga Muslim di Kanada tewas pada Ahad (6/6) akibat tertabrak sebuah truk pikap yang melompati trotoar di London, Kanada.

Menurut penyelidikan polisi, penabrakan dilakukan secara sengaja oleh orang yang menyasar kejahatan rasial anti-Islam. Terorisme juga tidak hanya dilakukan oleh individu, kelompok, tetapi juga dilakukan oleh negara.

Israel sejatinya merupakan negara teroris yang paling keji dalam membunuhi rakyat Palestina yang tidak berdosa. Selain merampas tanah rakyat Palestina, menuduh Hamas sebagai organisasi teroris, tentara Zionis Israel secara keji dan biadab juga telah mempertontonkan aksi terorisme paling brutral sepanjang sejarah kemanusiaan terhadap Palestina.

Jadi, ideologi terorisme dan aksi teror itu sama sekali tidak ada kaitan dengan bahasa Arab. Karena, secara linguistik, bahasa apa pun di muka bumi itu netral, bebas dari segala “tuduhan dan penistaan” yang tidak berdasar. Bahkan, jika bahasa Arab disangkutpautkan dengan terorisme, maka secara tidak langsung penuduhnya itu telah menista Alquran yang diturunkan dalam bahasa Arab. Dengan demikian, penalaran yang mengaitkan bahasa Arab sebagai salah satu ciri terorisme merupakan logika yang kacau, sesat, dan menyesatkan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA