Tuesday, 23 Syawwal 1443 / 24 May 2022

Optimisme Anies Saat Positivity Rate DKI di Bawah 5 Persen

Kamis 09 Sep 2021 14:17 WIB

Red: Mas Alamil Huda

Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin Covid-19 kepada warga di Masjid Al Istiqomah, Bangka, Jakarta, Ahad (5/9). Gubernur Anies Baswedan mengatakan sampai saat ini vaksinasi Covid-19 di Jakarta sudah mencapai 118 persen dari target. Namun masih ada 2,7 juta orang ber-KTP DKI yang belum divaksin.

Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin Covid-19 kepada warga di Masjid Al Istiqomah, Bangka, Jakarta, Ahad (5/9). Gubernur Anies Baswedan mengatakan sampai saat ini vaksinasi Covid-19 di Jakarta sudah mencapai 118 persen dari target. Namun masih ada 2,7 juta orang ber-KTP DKI yang belum divaksin.

Foto: Prayogi/Republika.
Positivity rate Provinsi DKI Jakarta dalam sepekan terakhir stabil di bawah 5 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Zainur Mahsir Ramadhan, Flori Sidebang

JAKARTA -- Data menunjukkan angka positivity rate Provinsi DKI Jakarta dalam sepekan terakhir stabil di bawah 5 persen. Klaim kasus Covid-19 terkendali kian mendapat legitimasi mengingat syarat yang ditentukan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah dipenuhi DKI Jakarta.

Pada survei serologi yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta berkolaborasi dengan Tim Pandemi FKM UI, Lembaga Eijkman, dan CDC Indonesia pada Maret 2021 dan dirilis Juli lalu menunjukkan, hampir separuh masyarakat Jakarta pernah terinfeksi virus corona. Serologi merupakan teknik berbasis imunologi yang bertujuan untuk mengukur respons imun terhadap suatu antigen dari sediaan darah seseorang. 

Survei serologi dilaksanakan berbasis populasi dengan metode sampling, pada kurun waktu 15-31 Maret 2021. Survei dilakukan di 100 kelurahan di 6 wilayah Kota/Kabupaten Administrasi, mencakup 4.919 sampel berusia >1 tahun (98,4 persen) dari total 5.000 target sampel, meliputi 54 persen perempuan dan 46 persen laki-laki, dengan kelompok usia 1-14 tahun (21,6 persen), 15-49 tahun (52 persen), 50+ tahun (26,4 persen).

Artinya, survei ini dilakukan beberapa bulan sebelum lonjakan kasus Covid-19 yang signifikan pada Juli lalu. Spekulasi mengenai sudah tercapainya kekebalan kelompok atau herd immunity di Ibu Kota pun muncul pascalonjakan tajam kasus Covid-19 pada Juli lalu. 

Gubernur Anies Baswedan mengaku tak terlalu fokus terkait hal itu. Anies menyatakan hanya akan berfokus pada vaksinasi semua orang yang ada di DKI Jakarta. Dengan menuntaskan itu, kata Anies, pencegahan saat ada pemberatan kasus bisa ditangani.

Baca juga : Anies: Holywings tak Boleh Beroperasi Hingga Pandemi Selesai

"Vaksin itu mencegah pemberatan bila sampai terpapar. Nah, yang mau kita lakukan di sini adalah mencegah penularanya dengan cara kedisiplinan," kata dia, Kamis (9/9). Ke depan, Anies akan mengumumkan teknologi yang bisa digunakan untuk mencegah dan mengendalikan penyebaran wabah Covid-19. 

Di sisi lain, masyarakat diminta untuk tetap mematuhi protokol kesehatan (prokes) secara disiplin. Anies mengatakan, positivity rate di bawah 5 persen tidak berarti lantas mengendurkan kedisiplinan terhadap prokes. Dia mengingatkan, kasus Covid-19 di Jakarta belum hilang sepenuhnya.

"Saat ini masih ada 4.000-an kasus aktif ya, kan itu artinya masih ada, dan itu yang harus dicegah," ujar dia. Anies optimis kasus Covid-19 di DKI Jakarta bisa terus terkendali.

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Ahmad Riza Patria, mengatakan, pengendalian Covid-19 di Jakarta hingga kini cukup baik. Hal itu, dinilainya berkat dukungan semua pihak, termasuk masyarakat yang tetap mengenakan prokes.

"Insya Allah dalam beberapa pekan ke depan kita akan mencapai target yang sebelumnya telah kita capai. Target awal di 8,8 juta, kita sudah penuhi di Agustus awal," ujar Riza.

Baca juga : Erick Thohir Angkat Bobby Jadi Dirut Barata Indonesia

Menyoal pelonggaran yang kini dilakukan, seperti batas makan di DKI dari 30 menjadi 60 menit, Riza tak menampiknya. Tetapi, dirinya meminta semua masyarakat untuk tetap disiplin menerapkan prokes.

"Dengan adanya beberapa bidang unit usaha berkegiatan, maka potensi orang yang keluar rumah bertambah, potensi interaksi meningkat dan itu bisa menyebabkan potensi penularan Covid-19 bertambah," ungkap dia. 

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA