Thursday, 18 Syawwal 1443 / 19 May 2022

Taliban: Olahraga untuk Wanita Itu tidak Pantas

Kamis 09 Sep 2021 04:30 WIB

Rep: Afrizal Rosikhul Ilmi/ Red: Muhammad Akbar

 Para wanita Afghanistan memegang plakat bertuliskan di Pashto Kami Ingin Gencatan Senjata Permanen selama unjuk rasa untuk menuntut perdamaian saat otoritas Afghanistan dan Taliban sedang membahas pakta perdamaian di Doha, di Jalalabad, Afghanistan, 16 September 2020. Hampir 19 tahun setelah jatuhnya Taliban rezim dan invasi Amerika Serikat, pemerintah Afghanistan dan pemberontak pada 12 September, memulai negosiasi perdamaian di Doha. Berbeda dengan tim Taliban, kelompok negosiasi beranggotakan 21 orang yang dikirim oleh Kabul termasuk empat wanita, yang - antara lain - akan berupaya untuk menjaga kemajuan hak-hak wanita sejak jatuhnya rezim Taliban yang telah mencegah anak perempuan pergi ke sekolah dan dikurung. wanita ke rumah mereka.

Para wanita Afghanistan memegang plakat bertuliskan di Pashto Kami Ingin Gencatan Senjata Permanen selama unjuk rasa untuk menuntut perdamaian saat otoritas Afghanistan dan Taliban sedang membahas pakta perdamaian di Doha, di Jalalabad, Afghanistan, 16 September 2020. Hampir 19 tahun setelah jatuhnya Taliban rezim dan invasi Amerika Serikat, pemerintah Afghanistan dan pemberontak pada 12 September, memulai negosiasi perdamaian di Doha. Berbeda dengan tim Taliban, kelompok negosiasi beranggotakan 21 orang yang dikirim oleh Kabul termasuk empat wanita, yang - antara lain - akan berupaya untuk menjaga kemajuan hak-hak wanita sejak jatuhnya rezim Taliban yang telah mencegah anak perempuan pergi ke sekolah dan dikurung. wanita ke rumah mereka.

Foto: EPA-EFE/GHULAMULLAH HABIBI
Saya tidak berpikir perempuan akan diizinkan bermain kriket.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- The Guardian melaporkan bahwa pemerintahan baru Afghanistan, Taliban, akan melarang wanita Afghanistan, termasuk tim kriket wanita nasional negara itu, untuk berpartisipasi dalam olahraga.

Wakil kepala komisi budaya Taliban, Ahmadullah Wasiq, mengatakan olahraga wanita dianggap tidak pantas atau tidak perlu.

"Saya tidak berpikir perempuan akan diizinkan bermain kriket karena perempuan tidak harus bermain kriket," kata Wasiq dalam wawancara dengan penyiar Australia SBS, dikutip dari Guerilla Cricket, Rabu (8/9).

"Dalam kriket, mereka mungkin menghadapi situasi di mana wajah dan tubuh mereka tidak akan ditutup. Islam tidak mengizinkan wanita terlihat seperti ini," ujarnya.

"Ini adalah era media, dan akan ada foto dan video, dan kemudian orang-orang menontonnya. Islam dan Islami Emirate (Afghanistan) tidak mengizinkan wanita bermain kriket atau olahraga yang membuat mereka terekspos," tambah Wasiq.

Baca juga : Diaspora Indonesia Mengingat Serangan 11 September

Sementara, pejabat di dewan kriket Afghanistan mengatakan belum ada komunikasi formal mengenai nasib kriket wanita, namun menurut The Guardian, program dewan untuk anak perempuan sudah ditangguhkan.

Olahragawan, termasuk pemain kriket, telah bersembunyi di Afghanistan sejak Taliban mengambil alih, dengan beberapa wanita melaporkan ancaman kekerasan dari pejuang Taliban jika mereka ketahuan bermain, kata laporan itu.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA