Tuesday, 1 Rabiul Awwal 1444 / 27 September 2022

Singkirkan Kesenangan pada Harta, Bukti Cinta pada Allah SWT

Rabu 08 Sep 2021 18:56 WIB

Rep: Umar Mukhtar/ Red: Ani Nursalikah

Singkirkan Kesenangan pada Harta, Bukti Cinta pada Allah SWT

Singkirkan Kesenangan pada Harta, Bukti Cinta pada Allah SWT

Foto: Pixabay
Harta menjadi ujian keimanan manusia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Harta dan kekayaan bagi manusia pada umumnya adalah sesuatu yang sangat dicintai. Karena harta merupakan alat untuk memuaskan kesenangan duniawi dan juga sarana untuk mendapatkan cinta dari sesama manusia.

Al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumiddin menyampaikan mereka yang mengaku cinta kepada Allah SWT akan mendapat ujian melalui objek yang dicintai oleh manusia pada umumnya. Cara melewati ujian tersebut ialah dengan menyingkirkan sebagian kecilnya dari sisi mereka.

Baca Juga

"Bukti kecintaan mereka semata kepada Allah SWT haruslah dengan menyingkirkan kesenangan dan kesayangan terhadap harta," jelas Al-Ghazali.

Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya Allah SWT telah membeli diri dan harta orang-orang yang beriman dengan jaminan surga bagi mereka." (QS At-Taubah Ayat 111)

Hal itu juga bisa dikaitkan dengan persoalan berjihad di jalan Allah SWT, yaitu dengan mengorbankan harta yang jauh lebih mudah daripada mengorbankan jiwa yang juga disebutkan pada ayat tersebut dalam rangka meraih kecintaan dari sisi Allah SWT. Karena itu pula, dari sudut pandang tersebut, manusia dapat dibagi menjadi tiga golongan.

Pertama ialah mereka yang mengakui kebenaran tauhid, menepati janji, dan mengeluarkan sebagian besar dari harta mereka di jalan Allah SWT. Golongan kedua adalah mereka yang derajatnya lebih rendah dari golongan pertama.

Mereka membelanjakan harta cukup untuk sekadar kebutuhan pokok dan membelanjakan sesuai dengan kebutuhan. Kelebihan harta mereka gunakan di jalan kebaikan, bukan untuk kesenangan dan hura-hura.

Golongan ketiga, yaitu orang-orang awam yang hanya menunaikan kewajiban zakat saja. Mereka tidak mengeluarkan lebih atau kurang dari kewajiban yang harus dilakukan. Ini adalah tingkatan paling rendah karena mereka pada umumnya cukup puas hanya dengan menunaikan zakat.

"Dan hati mereka sebetulnya cenderung untuk menumpuk kekayaan duniawi. Kecintaan terhadap kehidupan akhirat pun sangat sedikit mengisi hati mereka," kata Al-Ghazali.

photo
3 Manfaat Mensyukuri Nikmat Allah SWT (ilustrasi) - (republika)
 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA