Saturday, 27 Syawwal 1443 / 28 May 2022

'Tolong Jangan Lupakan Senggigi'

Selasa 07 Sep 2021 14:14 WIB

Red: Gilang Akbar Prambadi

Foto udara bangunan hotel di kawasan wisata Senggigi, Kecamatan Batulayar, Lombok Barat, NTB, Jumat (12/3/2021). Berdasarkan data Dinas Pariwisata Lombok Barat angka

Foto udara bangunan hotel di kawasan wisata Senggigi, Kecamatan Batulayar, Lombok Barat, NTB, Jumat (12/3/2021). Berdasarkan data Dinas Pariwisata Lombok Barat angka

Foto: ANTARA/Ahmad Subaidi
Padahal, Senggigi diklaim sudah lebih dulu dikenal hingga ke mancanegara.

REPUBLIKA.CO.ID, LOMBOK -- Pengamat pariwisata yang juga mantan juru bicara Sandiaga Uno bidang pariwisata pada 2020, Taupan Rahmadi, mengharapkan kawasan wisata Senggigi, Lombok Barat, jangan sampai dilupakan. "Senggigi tidak boleh dilupakan, Senggigi harus terus dijaga, Senggigi harus terus dibenahi dan dipromosikan," katanya kepada Antara, di Mataram, Selasa.

Fokus instansi terkait saat ini terhadap pembangunan kawasan wisata memang sedang terpusat di Lombok Tengah. Padahal, kawasan Senggigi telah lebih dahulu terkenal baik di mancanegara maupun domestik. Ia menyatakan kawasan wisata Senggigi merupakan bagian dari kekuatan pemulihan pariwisata nasional. 

"Sehingga Senggigi bukan untuk dilupakan," katanya.

Ia meminta semua pihak jangan ragu pariwisata akan bangkit kembali asalkan bersama-sama menghadapi pandemi Covid-19 ini. Dari pantauan Antara, kawasan wisata Senggigi saat ini bisa dikatakan "hidup enggan, mati pun enggan". 

Terlihat dari lesunya kawasan tersebut yang pada 1990-an sangat populer di dalam negeri maupun internasional. Saat memasuki kawasan tersebut, tidak terlihat lagi keriuhan para wisatawan yang hilir mudik atau sekadar nongkrong di restoran atau kedai kopi. 

Sejumlah restoran atau kedai kopi sudah lama menutup diri karena ketiadaan pengunjung. Matinya denyut industri pariwisata tersebut bahkan sudah terasa sejak pascagempa pada 2018. Meskipun,kembali sempat bangkit, pada pertengahan 2020 kembali mati suri sejak pandemi Covid-19.

Sementara itu Pemerintah Desa Senggigi bertekad menghidupkan kembali melalui desa wisata berbasiskan masyarakat. Meski pandemi Covix-19 masih berlangsung, tidak menghambat untuk mengangkat "Senggigi Mendunia".

"Justru dengan pandemi Covud-19 ini, peluang menata desa wisata dengan sebaik mungkin. Hingga ketika new season benar-benar telah siap," kata Kepala Desa Senggigi Mastur.

Tahap pertama yang akan ditata adalah menggali potensi baik wisata, budaya, dan kuliner, setiap dusun di Desa Senggigi, seperti pasar jajanan tradisional dan Taman Trigona Mangsit. Selanjutnya akan membuat soft tracking di pegunungan Mangsit yang berada di sisi timur Pantai Senggigi. Pasalnya, menurut Kades Mastur, selama ini hanya fokus pada wisata pantai, padahal di sisi pegunungan juga banyak potensi yang bisa digali.

Di hutan Senggigi akan dibuat pula areal berkemah, bahkan tempat berlatih panahan. Akan dibuat pula homestay. Selain itu, kawasan Senggigi juga memiliki taman wisata alam yang di dalamnya terdapat jalur tracking sampai air terjun. Pengunjung bisa menikmati suara burung, bahkan bisa melakukan pengamatan berbagai jenis burung yang unik.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA