Thursday, 13 Muharram 1444 / 11 August 2022

Trans TV Minta Maaf Atas Munculnya Saipul Jamil

Senin 06 Sep 2021 16:15 WIB

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Ilham Tirta

Saipul Jamil.

Saipul Jamil.

Foto: Antara/Sigid Kurniawan
Memperlakukan mantan narapidana pedofilia seperti pahlawan pantas dikecam.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Media televisi menjadi sorotan karena penayangan yang dinilai kurang pantas dengan mengundang mantan narapidana pedofilia, Saipul Jamil. Hal ini menuai beragam pandangan, termasuk glorifikasi sehingga bisa berdampak kurang baik dalam nilai kemanusiaan masyarakat Indonesia.

Ramainya hal ini diperbincangkan, membuat stasiun televisi nasional Trans TV menyatakan permintaan maafnya. Pihak Trans TV akan menerima kritik dan saran, serta hal ini akan menjadi perhatian khusus oleh mereka.

“Kami menerima kritik dan masukan terkait program Kopi Viral yang tayang di TRANS TV pada hari Jumat, 3 September dengan bintang tamu Saipul Jamil,” tulis Trans TV dalam akun IG Story dan akun Twitter mereka, Senin (6/9).

“Kami mohon maaf atas tayangan tersebut. Hal ini menjadi perhatian khusus dan telah melakukan evaluasi menyeluruh untuk menjadi pembelajaran dan perbaikan ke depannya. Terima kasih atas perhatiannya.”

Psikolog Keluarga UGM, Sutarimah Ampuni mengatakan, kecaman masyarakat adalah hal yang wajar, terutama pada medianya. Sebab, media yang mengundang mantan narapidana pedofilia dan memperlakukannya dengan hormat sangatlah tidak sensitif.

“Tindakan TV sangat tidak sensitif, sangat tidak tepat kalau mantan narapidana itu diperlakukan seperti itu di media massa, seakan-akan malah seperti pahlawan. Apalagi, ini untuk kasus pedofil, menurut saya itu sangat melukai hati, bukan hanya korbannya tapi masyarakat secara umum,” katanya saat dihubungi Republika.co.id, Senin (6/9).

Hal yang dilakukan media televisi maupun YouTube itu memberikan kesan seolah kesalahan seperti itu adalah acceptable, bahwa itu bukan kesalahan besar dan mudah dimaafkan. Efeknya akan berbahaya, seolah bisa memberi semacam ruang bagi para pelaku lain.

“Mereka akan merasa ‘Ah tidak apa-apa nanti orang lupa dengan yang saya lakukan’. Sementara media itu seharusnya menjadi corong untuk menyuarakan nilai-nilai yang harus ditegakkan di masyarakat,” kata dia.

Menurut dia, media itu harus dikecam dan diberi pelajaran bahwa perlakuan mereka itu tidak tepat sama sekali. "Jangan sampai orang punya kesalahan, lalu mendapat reinforcement seperti pahlawan di masyarakat,” katanya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA