Ahad 05 Sep 2021 06:29 WIB

Ridwan Kamil: Pandemi Ganggu Mental 60 Persen Warganya

Kesehatan mental bisa mengganggu berbagai kalangan dan usia.

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Indira Rezkisari
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan, sepanjang pandemi Covid-19, tercatat 60 persen warga Jabar mengalami tekanan psikis, cemas, dan khawatir.
Foto: biro adpim Jabar
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan, sepanjang pandemi Covid-19, tercatat 60 persen warga Jabar mengalami tekanan psikis, cemas, dan khawatir.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Ribuan warga Jawa Barat mengikuti sesi konseling dalam jaringan (online) yang diselenggarakan Gerakan Titik Koma bekerja sama dengan DPW Partai NasDem Jawa Barat, akhir pekan lalu. Tidak sedikit di antara mereka merupakan penderita gangguan kesehatan mental terutama akibat pandemi Covid 19 yang saat ini masih terjadi.

Sebanyak enam psikolog dan pembicara lainnya dihadirkan untuk memotivasi mereka agar mentalnya kembali pulih. Salah satu pembicara yaitu Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

Baca Juga

Dalam paparannya, pria yang akrab disapa Emil tersebut menyatakan, saat ini banyak masyarakat yang mentalnya terganggu terutama akibat pandemi Covid 19. "Gangguan kesehatan mental tak memiliki segmen tertentu, dari anak-anak sampai pemimpin. Selama 1,5 tahun agenda saya covid. Tiap hari, tiap minggu,  tiap bulan, sampai saya mimpi pun covid," ujar Emil.

Emil mengatakan, sepanjang pandemi Covid-19, tercatat 60 persen warga Jabar mengalami tekanan psikis, cemas, dan khawatir. Selain itu, terdapat 5.000-an anak yatim dan yatim piatu yang ditinggal orang tuanya karena meninggal dunia akibat Covid-19.

Bahkan, kata dia, 80 persen di antaranya sudah memasuki fase depresi. "Dari konsultasi, 80 persen sudah menyatakan level depresi. Orangtua tidak bisa ajari anak (belajar daring). Orangtua kena PHK. Bansos tidak sesuai harapan. Makanya perceraian naik di Jawa Barat," katanya.

Oleh karena itu, kata dia, pihaknya meluncurkan berbagai program untuk membantu warga yang mentalnya terganggu. Emil pun memotivasi peserta yang hadir agar tetap optimistis dalam menjalani hidup. Salah satunya dengan menganjurkan agar memiliki tujuan hidup.

"Hidup harus punya tujuan. Hidup yang bahagia adalah hidup yang punya tujuan. Kebahagiaan enggak bisa ditunggu, tapi diciptakan. Kejar kebahagiaan," katanya.

Selain itu, menurut Emil, terdapat enam kiat agar bisa hidup bahagia. Pertama, menurutnya harus memiliki waktu tidur yang cukup.

"Kedua diet, jaga pola makan, jangan segala dimakan. Ketiga olahraga, racun butuh dikeluarkan lewat keringat," katanya.

Keempat, kata dia, harus mengkonsumsi air putih yang cukup. "Kelima self respect, cari kebanggaan diri sendiri," katanya.

Keenam, kata dia, cari tempat untuk mencurahkan isi hati agar beban menjadi berkurang. "Makanya saya sangat menyambut baik Gerakan Titik Koma ini. Penting untuk menjangkau mereka yang mungkin memendam stres, galau, cemas," katanya.

Penggagas Gerakan Titik Koma, Zahra Najwa, mengatakan, pihaknya fokus membantu menangani kesehatan mental masyarakat terutama di saat pandemi ini. Terlebih di masa krisis seperti saat ini semakin banyak masyarakat yang kesehatan jiwanya terganggu.

Hal ini terlihat, kata dia, dari banyaknya pendaftar layanan konseling untuk mengobati penyakit mental yang diderita. "Hanya dalam dua hari setelah kami membuka pendaftaran, ada 1.000 pendaftar. Akun medsos kami yang baru berusia dua minggu juga langsung diikuti 50 ribu (warganet)," katanya.

Selain akibat merosotnya kondisi ekonomi, menurut dia gangguan mental ini terjadi karena semakin berkurangnya interaksi di antara masyarakat. Dengan begitu, berbagai tekanan hidup yang dialami masyarakat hanya dipendam sendiri sehingga semakin memberatkan beban psikis mereka.

"Dengan dipendam sendiri, selain penderita sulit menemukan solusi, beban psikisnya semakin berat," katanya.

 Jika tidak segera ditangani, kata Zahra, para penderita akan melakukan hal-hal yang mengkhawatirkan seperti menyakiti diri sendiri hingga orang lain. "Bisa ke mana-mana. Pikiran bunuh diri, narkoba, alkohol, termasuk berontak mengancam keselamatan orang lain," katanya.

Ia memastikan kegiatannya ini hadir untuk memberikan layanan konseling gratis bagi masyarakat yang mentalnya terganggu. "Kami membantu semampunya. Saat ini ada 6 psikolog, serta puluhan volunteer," katanya.

Ketua DPW Partai NasDem Jawa Barat Saan Mustopa menyadari, saat ini layanan pemerintah untuk mengatasi persoalan ini masih tergolong minim. "Kami berharap pemerintah memperbanyak layanan konseling gratis. Karena masyarakat tidak mampu sangat sulit untuk mengakses psikolog," katanya.

Terlebih, kata dia, saat ini semakin banyak masyarakat yang kejiwaannya tertekan akibat pandemi. "Seperti di Purwakarta, ada tiga anak yang kehilangan kedua orangtuanya karena virus corona. Selain membantu dari sisi ekonomi, layanan konseling sangat diperlukan," katanya.

Dalam kolaborasi dengan Prosemicolon Ini, menurut Saan pihaknya memfasilitas tempat untuk konseling, termasuk yang dilakukan secara dalam jaringan (online) yang menjangkau 1.000 warga yang membutuhkan pendampingan tersebut.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement