Wednesday, 2 Rabiul Awwal 1444 / 28 September 2022

Guru Besar FKUI Ingatkan Varian Baru Covid Bisa Lebih Bahaya

Sabtu 04 Sep 2021 21:50 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati  / Red: Bayu Hermawan

Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K), DTM&H, MARS

Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K), DTM&H, MARS

Foto: wideepid.wordpress.com
Guru Besar FKUI mengingatkan potensi munculnya varian baru Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kasus Covid-19 di Indonesia menunjukkan tren penurunan dalam beberapa waktu terakhir. Meski begitu, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Tjandra Yoga Aditama, mengingatkan potensi munculnya varian baru Covid-19 yang tidak menutup kemungkinan lebih berbahaya.

"Bukan tidak mungkin ada varian baru Covid-19 lagi. Ini dinyatakan oleh Ketua Emergency Committe WHO mengingatkan tidak menutup kemungkinan muncul varian baru yang mungkin lebih berbahaya dan jadi variant of concern dan presiden Joko Widodo di perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mengingatkan selain varian Delta, masih ada potensi varian baru Covid-19," ujarnya saat berbicara di konferensi virtual Persi bertema Hospital Management Webinar bertema Covid 19 update: let’s stay strong together," Sabtu (4/9).

Baca Juga

Tjandra melanjutkan, hal ini terbukti dengan Organisasi Kesehatan Dunia PBB (WHO) yang mengklasifikasikan varian Mu atau B.1621 sebagai variant of interest (VoI) sejak empat hari lalu. Ia menambahkan, varian ini dinilai belum terlalu berbahaya. 

Tak hanya varian Mu, menurutnya varian Lambda yang ada di Filipina dan Kappa yang ada di Sydney, Australia, yang juga menjadi perhatian WHO. Namun,yang jadi isu besar adalah varian Delta. 

Bahkan, menteri kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan mengakui keberadaan varian ini dan membuat kasus Covid-19 bertambah. "Ada 10 dampak yang ditimbulkan (akibat varian Delta menyebar)," ujarnya.

Pertama, dia melanjutkan, situasi epidemiologik jadi alert karena kasus harian sempat melonjak beberapa waktu lalu yang mencapai puluhan ribu, bahkan angka kematian sempat menembus rekor 2 ribuan per hari. Kedua, meningkatnya lasus menambah keterisian tempat tidur di rumah sakit (BOR) hingga  PPKM dijalankan. 

Dampak ketiga, ia mengatakan sistem rujukan juga terpengaruh. Efek keempat klaim pembayaran juga terkena imbas. "Dampak kelima adalah perlindungan tenaga kesehatan. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) melaporkan ratusan dokter meninggal dunia akibat Covid-19," ujarnya.

Keenam, dia melanjutkan pelayanan yang dikeluhkan. Ketujuh adalah pelayanan kesehatan primer. Kemudian dampak kedelapan adalah penanganan di hulu. Dampak kesembilan adalah pelayanan kesehatan kesehatan non-Covid-19. Efek terakhir, dia menambahkan, yaitu persiapan ke depan atau resilient hospital. 

 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA