Sabtu 04 Sep 2021 18:20 WIB

Bupati: Peradaban Maybrat tak Pernah Sesadis Ini

Pembantaian TNI di Maybrat dinilai tidak pantas dilakukan manusia.

Rep: Bambang Noroyono/ Red: Ilham Tirta
Prajurit TNI mengangkat peti jenazah rekannya di Markas Komando Korem 181/PVT Kota Sorong, Papua Barat, Kamis (2/9/21). Empat jenazah prajurit TNI AD, korban penyerangan Kelompok Saparatis Teroris (KST) di Pos persiapan Koramil Kisor Distrik Aifat, Kabupaten Maybrat, Papua Barat tiba dan disemayamkan di Kota Sorong untuk selanjutnya akan diterbangkan ke daerah masing-masing.
Foto: ANTARA/OLHA MULALINDA
Prajurit TNI mengangkat peti jenazah rekannya di Markas Komando Korem 181/PVT Kota Sorong, Papua Barat, Kamis (2/9/21). Empat jenazah prajurit TNI AD, korban penyerangan Kelompok Saparatis Teroris (KST) di Pos persiapan Koramil Kisor Distrik Aifat, Kabupaten Maybrat, Papua Barat tiba dan disemayamkan di Kota Sorong untuk selanjutnya akan diterbangkan ke daerah masing-masing.

REPUBLIKA.CO.ID, MAYBRAT -- Bupati Kabupaten Maybrat Maybrat, Papua Barat, Bernard Sigrim mengutuk kekejaman kelompok pelaku penyerangan Pos Koramil Maybrat, di Kampung Kisor, Aifat Selatan, Papua Barat. Dalam kunjungannya ke lokasi kejadian, Sabtu (4/9), Bernard meminta agar TNI dan Polri menangkap pelaku dan dalang penyerbuan yang menewaskan empat tentara pada Kamis (2/9) itu.

Bernard mengatakan, pembunuhan di Pos Koramil tersebut adalah peristiwa sadis dan tak berprikemanusiaan. Dikatakan dia, dalam peradaban turun-temurun tiga masyarakat adat di wilayah Maybrat, tak pernah sekalipun melakukan kekejaman dan aksi-aksi sesadis yang dialami para anggota TNI yang gugur dalam penyerangan tersebut.

“Dalam beratus-ratus tahun kehidupan di masyarakat kami, di Ayumara Raya, Aifat Raya, dan Aitinyo Raya, pembantaian sesadis ini, tidak pernah ada, dan tidak pernah terjadi dalam sejarah kami,” ujar Bernard dalam siaran pers resmi yang diterima Republika.co.id di Jakarta, Sabtu (4/9) sore.

Bernard mengakui, di masyarakat asli di Maybrat, pernah ada catatan perang suku ataupun perang adat. Akan tetapi, dalam perang lokal tersebut pun tak pernah melakukan pembantaian sekeji yang terjadi di Pos Koramil tersebut.

“Siapapun orang beragama, agama apapun dia, binatang sekalipun, tidak pernah melakukan tindakan yang sesadis ini,” ujar Bernard.

Sebagai pemimpin sipil masyarakat Maybrat, Bernard pun menyesalkan dan turut berduka atas peristiwa penyerangan tersebut. “Saya sebagai orang tua di Maybrat, dan sebagai pimpinan daerah di Kabupaten Maybrat, menyampaikan turut prihatin, ikut berduka dan berbelasungkawa atas gugurnya empat personel TNI dalam peristiwa ini,” kata Bernard.

Ia pun meminta TNI dan Polri bersama masyarakat saling membantu mengejar dan menangkap pelaku demi keamanan bersama. “Saya mengimbau kepada masyarakat, tentara dan polisi masuk ke sini bukan untuk menakuti. Tetapi untuk memastikan kehadiran penegakan hukum, untuk melindungi warga masyarakat,” ujar dia.

Dalam kunjungan tersebut, Pangdam Kasuari, Mayor Jenderal (Mayjen) I Nyoman Cantiasa juga kembali menegaskan, pihaknya akan terus mengejar para pelaku. "Mereka harus bertanggung jawab terhadap tindakan keji, biadab, dan tidak berprikemanusiaan seperti ini,” ujar Nyoman.

Jenderal Angkatan Darat (AD) bintang dua itu pun meminta masyarakat di Maybrat tetap tenang dan menjalankan aktivitas seperti biasa. TNI bersama Polri akan tetap memberikan jaminan keamanan kepada siapapun.

“TNI hadir di sini (Maybrat) bukan untuk menyakiti hari rakyat. Tetapi untuk memberikan jaminan keamanan kepada masyarakat,” ujar dia.

Penyerangan Pos Koramil Kisor terjadi pada Kamis (2/9) subuh. Dikatakan sekitar 30-an orang menyerang pos persiapan TNI secara tiba-tiba. Sejumlah saksi mengatakan, penyerangan dilakukan dengan menggunakan senjata tajam maupun senjata api. 

Empat anggota militer yang gugur dalam penyerangan itu adalah Serda Amrosius, Praka Dirham, Pratu Zul Ansari, dan Lettu Chb Dirman. Dua personel militer lainnya mengalami luka parah.

Dalam pernyataan terbuka kepada media, Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN-PB) Organisasi Papua Merdeka (OPM) mengaku bertanggung jawab atas serangan mematikan itu. Juru Bicara TPN-PB OPM Sebby Sambom mengatakan, serangan pos militer di Maybrat sebagai perlawanan bersenjata terhadap pasukan TNI dan Polri.

“Panglima Kodam IV Sorong Raya TPNPB-OPM bertanggungjawab atas penyerangan ini,” kata dia, Kamis (2/9).

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement