Jumat 03 Sep 2021 16:34 WIB

DKI Ungkap Faktor Penyebab Rendahnya Angka Kematian Covid-19

Per Kamis, angka kematian akibat Covid-19 di DKI sebanyak 10 orang.

Sejumlah tenaga kesehatan mendorong tabung oksigen di Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, Selasa (17/8). Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi DKI Jakarta mengungkapkan tiga faktor utama penyebab angka kematian akibat COVID-19 di Ibu Kota rendah yakni 10 orang pada Kamis (2/9).
Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat
Sejumlah tenaga kesehatan mendorong tabung oksigen di Rumah Sakit Darurat COVID-19 (RSDC) Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, Selasa (17/8). Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi DKI Jakarta mengungkapkan tiga faktor utama penyebab angka kematian akibat COVID-19 di Ibu Kota rendah yakni 10 orang pada Kamis (2/9).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi DKI Jakarta mengungkapkan tiga faktor utama penyebab angka kematian akibat COVID-19 di Ibu Kota rendah yakni 10 orang pada Kamis (2/9). Dibandingkan awal juli yang rata-rata 400 orang per hari, jumlah ini sangat kecil.

"Satu, karena ketersediaan layanan kesehatan di rumah sakit," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DKI Jakarta Dwi Oktavia di Jakarta, Jumat (3/9).

Berdasarkan data Pemprov DKI Jakarta hingga Kamis (2/9) total jumlah meninggal dunia karena konfirmasi positif COVID-19 di Ibu Kota mencapai 13.312 orang. Jumlah ini mencapai 1,6 persen dari total di Indonesia 134.356 orang.

Lebih lanjut, Dwi menjelaskan di Jakarta, terdapat 140 rumah sakit rujukan COVID-19 dengan tingkat keterisian tempat tidur (bedoccupancyrate/BOR) saat ini menurun menjadi 15 persen per Rabu (1/9). Sebelumnya pada periode Juni-Juli 2021, tingkat keterisian tempat tidur sempat di atas 90 persen.

Total dari 8.189 tempat tidur hanya terisi 1.211 tempat tidur atau 15 persen. Selain BOR yang turun, keterisian tempat tidur ruang perawatan intensif (ICU) RS di Jakarta juga turun menjadi 31 persen dengan keterisian mencapai 414 tempat tidur dari total 1.349 tempat tidur yang disiapkan.

"Kami beriringan dengan upaya pemutusan rantai tapi kapasitas untuk merawat pasien COVID, juga berusaha diseimbangkan antara jumlah pasien, proyeksi kasus dengan tempat tidur yang disiapkan. Kerja sama rumah sakit sangat baik di Jakarta sehingga orang lebih cepat tertangani," imbuhnya.

Kedua, lanjut dia, kapasitas pemeriksaan COVID-19 di Jakarta juga relatif lebih baik dan pengambilan sampel tes usap dilakukan Puskesmas, meski pemeriksaan tetap di laboratorium. Tercatat di Jakarta ada 290 Puskesmas kelurahan dan 44 Puskesmas kecamatan yang terlibat dalam pemeriksaan COVID-19.

Sementara itu, kemampuan pemeriksaan tes usap berbasis "polymerasechainreaction"(PCR) juga ditingkatkan yang sepekan terakhir mencapai lebih dari 80 ribu tes, atau delapan kali lipat dari target organisasi kesehatan dunia (WHO) sebesar 10.650 tes PCR dalam satu pekan. Dengan begitu, mempercepat upaya penanganan warga yang terpapar COVID-19.

Ketiga yakni gencarnya vaksinasi yang dilakukan kepada warga berusia 12 tahun ke atas. Hingga Rabu (2/9), jumlah warga di DKI yang sudah divaksin dosis pertama mencapai 9,77 juta atau 109,3 persen dari target 8,94 juta warga. Sekitar 40 persen di antaranya adalah warga dengan KTP non DKI Jakarta sehingga Pemprov DKI Jakarta menambahkan sasaran vaksinasi mencapai 11 juta orang.

Sedangkan jumlah warga di DKI yang sudah lengkap menerima dua kali vaksinasi mencapai 5,89 juta atau mendekati 66 persen. "Vaksinasi juga sangat mempengaruhi artinya orang yang sudah divaksin lengkap, peluang (sakit) menjadi lebih berat itu kecil, peluang meninggal juga menjadi lebih rendah," imbuhnya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement